Kendaraan yang melintasi jembatan di kilometer 110 jalan tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi (Purbaleunyi) melahirkan suara mirip guntur. Angin yang lewat di antara tiang-tiang beton penopang jembatan setinggi 40 meter berdesir samar-samar. Dalam selang waktu cukup lama, terdengar suara kereta api yang melintas di bawah jembatan.

Suara-suara tadi akan Anda dengar apabila Anda berada di bawah jembatan sepanjang 700 meter tersebut. Namun, Kamis (14/4), suasananya agak berbeda. Ada tambahan suara dari sembilan orang petugas Layanan Tol Purbaleunyi. Dentingan logam keluar dari peralatan yang mereka siapkan.

Seorang petugas mengenakan helm keselamatan berwarna merah. Sit harness yang ia pakai di antara perut dan lututnya telah terhubung dengan tiang beton di pinggir jurang melalui tali carmantel setebal satu sentimeter.

Setelah memastikan carabiner dan figure 8 telah terpasang dengan baik di sit harness-nya, ia pun mengambil ancang-ancang. Rescuer siap! Delayer siap!”, teriaknya dengan lantang.

Dengan sigap, ia kemudian menuruni jurang setinggi 20 meter. Seorang petugas lainnya kemudian menyusul sambil membawa tandu. Di bawah ada seorang korban yang membutuhkan pertolongan sesegera mungkin.

Siang itu, mereka sedang berlatih untuk mempersiapkan diri mengikuti perlombaan SAR yang digelar Badan SAR nasional (Basarnas) di Pangalengan akhir pekan ini. “Seminggu dua kali kami latihan untuk persiapan lomba. Biasanya sih tiap tiga bulan sekali ada pelatihan seperti ini,” ungkap Yayat Hidayat, instruktur SAR Jasa Marga Cabang Purbaleunyi yang juga petugas Layanan Jalan Tol Purbaleunyi.

Ada sekitar 70 petugas dalam unit Layanan Jalan Tol atau yang dulu lebih dikenal sebagai petugas Patroli. Menurut Yayat, setiap petugas pasti mendapatkan pelatihan SAR dari Basarnas. Hal tersebut telah dimulai sejak 2005 kala Jasa Marga pertama kali membentuk kerja sama dengan Basarnas.

Sebelum ada kerja sama, keahlian petugas patroli dikhususkan dalam penanganan kecelakaan di jalan. Setiap petugas telah dilatih dasar-dasar pertolongan pertama gawat darurat. Mereka biasanya dilibatkan dalam evakuasi korban kecelakaan mobil juga kereta api.

Kemampuan tersebutlah yang kemudian mereka pakai saat membantu para korban tsunami di Aceh 2004 silam. Di sana, Basarnas melihat kinerja mereka dan akhirnya menawarkan kerja sama.

“Setelah pembangunan Cipularang rampung di 2005, kami melihat medannya berat dan segala kemungkinan bisa terjadi. Itu juga jadi pertimbangan kami untuk bekerja sama dengan Basarnas,” ujar Kasubag Pelayanan Lalu Lintas Tol Purbaleunyi, Andrianus Andrie.

Selain meningkatkan keahlian petugasnya, Jasa Marga Purbaleunyi pun kini memiliki peralatan evakuasi yang cukup lengkap. Ada satu unit ambulance dan dua unit mobil rescue yang selalu siaga. Tiap-tiap mobil rescue telah dilengkapi peralatan seperti ram dan cutter yang dapat memotong besi. Juga ada tiga air bag yang masing-masing mampu mengangkat beban hingga 40 ton dengan ketinggian 40 sentimeter.

Menurut Andrie, petugas patroli tak hanya siap membantu korban kecelakaan di jalan tol. Mereka pun telah berkali-kali diterjunkan ke daerah bencana. Di antaranya saat gempa di Padang, Bantul, tsunami di Mentawai, banjir bandang di Wasior, dan kala Gunung Merapi meletus.