Sabtu (9/4) Sore, sekitar pukul 17.00, halaman pondok pesantren (ponpes) Darul Hidayah terlihat sepi. Anak-anak taman pendidikan alquran baru saja pulang. Sementara, santri-santri sedang beristirahat di kobong masing-masing. Hanya ada dua santri yang sedang menyapu halaman ponpes.

Hentakan musik metal tiba-tiba terdengar memecah kesunyian halaman ponpes itu. Suara nyaring itu muncul dari loud speaker mp3 player milik Dika Surya (16 tahun) yang sedang duduk di pendopo ponpes.

Dari penampilannya, Anda tak akan menyangka kalau dia adalah santri. Dika mengenakan kaos bergambar Dream Theater, sebuah band progressive metal asal Amerika, dipadu celana jeans pendek serta jaket hitam.

“Saya suka musik metal. Waktu Avenged Sevenfold (band metalcore asal Amerika) datang ke Jakarta, saya nonton ke sana bareng teman-teman sekolah,” ujar Dika yang mengaku menjadi santri kalong (julukan bagi santri yang tidak mondok di pesantren) sejak kelas 2 SD.

Dika yang kini duduk di kelas 2 SMK PU menuturkan, menjadi santri di kota besar memang banyak godaannya. “Di sini kan dekat sama Bandung Supermall. Kalau ada acara musik, biasanya pas malam minggu, enggak heran kalau pengajiannya sepi,” kata Dika.

Pimpinan Ponpes, KH Aep Saefullah, tak menyangkal godaan-godaan di kota seringkali mengganggu kegiatan belajar di pesantren. “Misalnya saja kalau Persib main sehabis Magrib. Santri-santri yang mondok pun kadang ikut ketularan,” cerita Aep.

Godaan-godaan yang lebih kuat dibandingkan di desa, membuat ponpes Darul Hidayah mempunyai julukan Ashabul Kahfi. Julukan itu diberikan Pimpinan Ponpes Sukahideng Tasikmalaya, KH Wahab Muhsin, ketika rombongan santri Darul Hidayah yang dipimpin almarhum KH Memed bersilaturahim pada 1980an.

Julukan ini pun dianggap tepat merepresentasikan sejarah berdirinya ponpes di daerah ‘merah’. Sebagai catatan, pada masa penjajahan Belanda, daerah ini termasuk salah satu ladang prostitusi. Saat mulai dibangun pada 1965, lingkungan sekitar ponpes dikenal sebagai lingkungan yang jauh dari agama. “Belum lagi banyaknya jumlah anggota Partai Komunis Indonesia di sini,” lanjut Aep.

Julukan Ashabul Kahfi pun kemudian diangkat menjadi nama rumah yatim dan dhuafa yang terletak sekitar 50 meter dari ponpes Darul Hidayah. Rencananya rumah yatim dan dhuafa ini akan diresmikan awal Mei nanti oleh Camat Batununggal.

Penamaan ini menyimpan harapan mulia pengurus ponpes yang menginginkan anak-anak asuhannya mirip dengan orang-orang dalam kisah Ashabul Kahfi. “Kami berharap, mudah-mudahan nanti anak-anak yang dibimbing di sini memiliki ilmu yang luas dan akhlak yang menonjol. Tidak suka bermaksiat dan diharapkan mampu berdakwah hingga nantinya menjadi pejuang-pejuang agama,” jelas Aep.

Rumah yatim tersebut berdiri di atas tanah wakaf seluas 113 dari H. Haryadi Abidin. Menurut Sekretaris Yayasan Pesantren Terpadu Darul Hidayah Bandung (YPTDHB), Fahmi Tubagus Ridwan, semula Haryadi hendak membangun kontrakan di tanah tersebut. Pada September 2011, setelah melihat keberadaan pondok pesantren di dekat tanah tersebut, Haryadi pun berubah pikiran. Ketua RW langsung dipanggil untuk mengurus wakaf tanah tersebut.

“Begitulah hidayah Allah turun pada umatnya,” cerita Fahmi.

Urusan pembangunan rumah kemudian disponsori oleh Telkom setelah YPTDHB melayangkan permohonan proposal pembangunan rumah. Kini pembangunan rumah yatim 90 persen rampung. Sebuah rumah kayu dilengkapi sebuah gazebo di halaman depannya telah berdiri tegak.

Fahmi menjelaskan bahwa konsep rumah kayu ini dipilih untuk memberikan suasana nyaman, teduh, dan menenangkan bagi anak asuh. “Biar benar-benar terasa seperti rumah bagi mereka,” jelas Fahmi.

Soal dana pemeliharaan, Fahmi mengaku tidak terlalu memusingkan hal tersebut meski hingga sekarang pihaknya belum mendapat jaminan kepastian dari siapa pun. “Yang jelas, pengurusan anak-anak akan diserahkan kepada para santri. Kami sudah terbiasa mengurusi santri-santri di sini. Soal dana, nanti akan kami cari bersama-sama, seperti saat mengurusi santri di sini,” tutur Fahmi.

Untuk permulaan rumah yatim ini akan menampung enam orang anak. Jumlah tersebut ditentukan berdasarkan dana yayasan saat ini yang masih terbatas. Anak-anak yang akan dipilih adalah anak-anak usia sekolah dasar. Nantinya, pendidikan formal dan nonformal mereka akan didanai sepenuhnya oleh YPTDHB.

“Daftar namanya sendiri masih belum ada. Namun nanti tentu saja akan diprioritaskan enam orang anak yang betul-betul berasal dari kalangan kurang mampu dan anak-anak dari lingkungan kecamatan Batununggal dulu,” ujar Aep.