Wajah anak itu tak menyiratkan kegugupan sama sekali. Ketika ia naik ke atas panggung semua perhatian tertuju padanya. Dengan lincah, ia memainkan keyboard tanpa salah nada sementara matanya menatap para hadirin dengan penuh percaya diri. Dari jemarinya lahir nada-nada yang ceria.

Begitulah suasana ketika Made Dwara Abhysma (16) mengiringi nyanyian Ervitha Puspa Dewi (18) yang membawakan tiga lagu dari album mereka yang berjudul Our Life. Penampilan mereka memukau hadirin pada acara Autism in Movement, Sabtu (2/4), di Gedung Pakuan, Bandung. Sulit disangka, keduanya adalah anak-anak penyandang autis. Keduanya terlihat begitu percaya diri.

Padahal, sebelum naik ke panggung Abhysma sempat mengalami overload. Indra sensorinya terlalu sensitif. Kebisingan di dalam gedung membuat ia gelisah. Ayahnya, Gde Ngurah Semarabhawa, kemudian menemani Abhy keluar gedung sejenak untuk mencari ketenangan.

“Abhy sudah mendapatkan terapi. Ia bisa mengontrol emosinya sehingga kalau overload tidak sampai tantrum, meledak. Itu bedanya antara anak yang mendapat terapi dan tidak,” jelas Dewi Semarabhawa, ibu Abhy, yang juga salah seorang pendiri WilaKertia, tempat terapi untuk anak autis di Jakarta.

Menurut Dewi, anak autis memang butuh perhatian khusus. Ia mencontohkan, apabila anak-anak pada umumnya mudah diajari cara meniup lilin, anak autis berbeda. Mereka harus dibimbing mulai dari bentuk mulut saat meniup hingga cara menghembuskan nafasnya.

“Maka, dalam pendidikannya, penyandang autisme membutuhkan terapi one on one. Ada pengulangan-pengulangan yang harus dilakukan sampai mereka terbiasa dan pada akhirnya mandiri,” ujar Dewi.

Biaya terapi untuk penyandang autisme cukup mahal, bisa mencapai Rp3juta per bulannya sehingga tidak semua kalangan bisa menikmatinya. Kepala Dinas Kesehatan Alma Lucyati yang ditemui malam itu menyatakan, keluhan mahalnya biaya terjadi karena penanganan yang terlalu segmental.

“Kami upayakan agar gerakan ini menjadi sebuah kesatuan bersama, sehingga bisa saling melengkapi dan membantu,” ujar Lucy.

Alma menuturkan, pihaknya telah melatih kader Posyandu tentang masalah autisme ini sehingga mampu menemukan penyandang autis sedini mungkin. “Ada anak-anak dari kalangan tidak mampu. Kadang mereka tidak paham cara menangani anak autis. Mereka tetap butuh penanganan pendidikan yang tepat dan ada beberapa perhatian khusus yang harus diberikan,” tutur Lucy.

Sementara itu, Netty Prasetiyani Heryawan, ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat, mengatakan akan menginisiasi Aliansi Jabar Peduli Autis dari organisasi-organisasi peduli autisme yang terserak. “Nantinya organisasi ini akan menjadi semacam support group sebagai wadah berbagi ilmu dan pengetahuan tentang bagaimana melakukan terapi, pendidikan, dan membantu penanganan autisme,” ujar Netty.

Menurut Netty, penyandang autisme adalah karunia yang besar sekaligus investasi dunia dan akhirat. “Kegiatan malam ini bukan sekadar penggalangan dana, tapi malam ini, kita semua bersepakat bahwa kita akan terus memotivasi keluarga-keluarga yang diakaruniai anak penyandang autisme bahwa mereka adalah karunia dari Tuhan,” tutur Netty.

Malam itu, dana yang berhasil digalang sekitar Rp 250juta.  Menurut Gisela Erika Hady Banyu, ketua acara dari Epic Maranatha, dana tersebut akan disalurkan ke tempat terapi. Tempat terapi tersebut kemudian akan memberikan voucher terapi kepada sekitar 30 anak yang ditemukan pada kegiatan pendeteksian seminggu sebelumnya. “Ini untuk meminimalisasi terjadinya penyalahgunaan dana. Biar pada akhirnya semuanya digunakan untuk terapi penyandang autis,” ujar Erika.