Malam baru saja usai. Namun tanda-tanda kedatangan sinar mentari belum terasa. Kamis (10/3) sekitar pukul 03.30 sebuah mobil pick-up berhenti di samping trotoar di Jalan Cikapundung Timur. Dengan cekatan, sang sopir dibantu temannya menurunkan ribuan eksemplar koran dari bak mobil.

Setelah selesai, deru knalpot kembali menyalak. Pick-up itu pun segera lenyap dari pandangan mata.

Mereka memang sedang memburu waktu. Terlambat sedikit dari jadwal, konsekuensinya cukup besar. Koran yang tak sampai tepat waktu berpotensi mengurangi jumlah pelanggan media bersangkutan. Oleh karena itu dibutuhkan orang-orang yang mampu bergerak cepat.

“Bahkan, untuk merekrut sopir, biasanya ditanyakan, apakah pernah berurusan dengan polisi? Mereka yang pernahlah yang seringkali diterima,” ujar Yanyan Sopyan sembari bercanda.

Yanyan yang bekerja di bagian sirkulasi harian Republika sejak 1994 menuturkan, untuk daerah Jawa Barat, Republika sendiri memiliki tiga rute sirkulasi. Satu rute melewati Bandung hingga Banjar. Dua rute lainnya adalah Jakarta-Sukabumi dan Jakarta-Cirebon.

Setiap mobil membawa sekitar 7 ribu eksemplar koran setiap hari. Dari percetakan di Jakarta mereka bertugas untuk menyebarkan koran-koran untuk diedarkan kepada agen-agen, para pengecer, hingga akhirnya sampai di tangan pembaca

Hari itu, 5 ribu eksemplar diturunkan di Cikapundung untuk disebarkan kepada agen-agen yang berkumpul di area yang mereka sebut bursa.

Cikapundung sendiri telah lama menjadi bursa di Bandung. Tempat ini menjadi semacam pusat penjualan koran dan majalah sejak koran dan majalah yang pertama ada di Kota Bandung. Para agen dan pengecer bertemu di tempat ini.

Di Bursa Cikapundung, kesibukan memang baru saja dimulai. Satu persatu agen koran dan majalah mulai membuka lapaknya. Semuanya terlihat sibuk menyusun koran-koran dan majalah yang baru saja mereka dapatkan. Semuanya bernaung di bawah organisasi Persatuan Agen Surat Kabar dan Majalah (PASKAM).

Dede Sulaeman (53) telah bekerja sebagai agen koran sejak 2000. Tiap hari ia berjualan sejak pukul 04.00 hingga pukul 08.00. Dede tergolong sebagai agen kecil dalam bisnis ini. Koran yang ia jual berkisar antara 400 hingga 500 eksemplar tiap harinya. Meski tak mau menyebutkan jumlah keuntungannya, ia mengaku hasil yang ia peroleh cukup memuaskan.

Apakah perkembangan teknologi saat ini memengaruhi bisnis koran dan majalah?

“Kalau dibandingkan dengan dulu, memang ada perbedaan. Jumlah koran yang saya jual lebih sedikit dibandingkan dengan dulu,” tutur Dede.

Dede mencontohkan, dulu saat pengumuman Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) belum bisa dilihat secara online, banyak calon mahasiswa yang sejak pagi buta mencari koran di Cikapundung. Kini, suasana seperti itu tidak lagi ia rasakan.

Media elektronik dan internet memang sering didengungkan akan menggusur posisi media cetak. Kecepatan dalam menyebarkan informasi menjadi kekuatan utama dua media tersebut.

“Tapi, masih banyak juga orang yang jadi pelanggan koran. Kalau sudah senang membaca, dia pasti lebih memilih koran meski sudah tahu informasinya dari media lain,” simpul Dede.

Rintik hujan mulai menetes di pagi yang dingin itu. Tak mau dagangannya rusak, para agen bersegera memasang tenda. Hujan pun turun, namun semangat masih terpancar di wajah mereka.