“Halo pak tua, apa kabarmu hari ini?”

Ah, dia lagi. Memang siapa yang tua. Aku masih muda, setidaknya semangatku masih muda. Banyak anak muda sering minum kopi bersamaku di teras rumah. Mana mungkin aku tua kalau anak-anak muda itu masih mau menemaniku. Tak ada anak muda yang mau berteman dengan pak tua. Seperti halnya dulu waktu aku tak suka bertemu dengan orang tua. Alasannya mudah saja. Orang tua kadang tuli dan tak mampu lagi menerima hal-hal yang baru.

“Kacamata barumu itu tak banyak menolongmu rupanya, aku bukan pak tua,” jawabku.

“Ha ha, kau memang selalu muda.”

Ya, itulah aku.

Sama seperti sore-sore lainnya, aku duduk di kursi bambu tuaku sambil mengawasi cucuku bermain dengan teman-temannya. Ia belum bisa naik sepeda dengan seimbang. Tapi tawanya tak pernah hilang meski berkali-kali ia jatuh. Kaki-kaki kecilnya selalu berdiri kembali. Roda pun berputar kembali, mambantu ia mengejar teman-temannya.

Punya teman sebaya memang menyenangkan. Walau kadang aku bosan, teman sebaya satu-satunya yang ada di kampung ini selalu datang di sore hari untuk ikut menikmati lapangan hijau di depan rumahku. Lapangan ini telah menjadi layar lebar dengan film yang selalu diganti tiap harinya buat kami.

Ia duduk di kursi bambu yang biasa. Kutawari dia secangkir kopi hitam. Ia mengangguk. Aku pun masuk ke dalam dan mengambil dua cangkir kopi. Tak lupa sedikit makanan ringan untuk menemani dua cangkir tadi di atas meja yang sepi.

“Wow, bagus juga hasil catmu. Tak kusangka kau masih bisa mengangkat kuas sampai ke ujung tembok sana,” katanya mengomentari sedikit hasil kerjaku siang tadi.

“Ini sih mudah. Tak perlu kerja keras otak.”

“Warna putih membuat rumahmu terlihat lebih luas,” katanya sambil mengintip lewat jendela.

“Sedikit perubahan selalu baik untuk hidupku. Bagaimana kabar burung beomu? Sudahkah dia belajar cara untuk diam?”

“Ah, dua hari lalu dia memang sudah diam. Rumahku sepi lagi.”

Ia lalu bercerita. Berkat otaknya yang telah pikun, ia lupa memberi makan temannya yang cerewet itu. Tiga hari tak makan, beo itu akhirnya terbang bebas. Terbang bebas dari dunia ini.

Bukannya dikuburkan, bangkai beo itu diawetkan dan dipajang bersama bangkai binatang-binatang peliharaannya yang lain. Bila kau sempat mengunjungi ruang tamu rumahnya, kau akan menemukan bangkai-bangkai itu berderet seperti semacam trofi. Ia bukan bekas pemburu, perempuan aneh ini cuma pernah kerja di museum.

“Itu bukan hal yang aneh,” ujarnya seolah bisa membaca pikiranku. “Berapa kali harus kuberi tahu? Jiwa mereka selalu ada. Aku selalu merasa mereka menemaniku. Itu yang membuatku tak pernah merasa kesepian ketika sendiri di rumah.”

“Ya, berapa kali pula harus aku sarankan. Kenapa tak kau panggil saja satu atau dua anakmu untuk menemanimu tinggal? Itu lebih masuk akal. Kau hanya menggantikan keinginanmu ditemani anak-anakmu dengan patung-patung itu. Itu semua palsu. Dan aku yakin kau tak mungkin tenang hidup seperti ini.”

“Mereka semua sudah tak peduli padaku. Lebaran kemarin saja hanya satu anakku yang pulang. Ia masih saja jadi budak dari mimpi. Entah sampai kapan.”

“Kau masih beruntung. Kau masih punya anak.”

“Apakah aku beruntung, kalau tak ada satu pun anakku yang peduli lagi padaku?”

“Ayolah, kau hanya perlu menyingkirkan rasa takutmu untuk meminta mereka menemanimu. Atau setidaknya singkirkan rasa malumu untuk minta tinggal bersama mereka. Aku rasa mereka sudah melupakan kesalahanmu yang dulu. Mana keberanian masa mudamu itu?”

“Memang mudah memberi saran, apa keberanianmu masih ada untuk bilang ke cucumu?” Aura sinis terlihat dari sorot matanya.

“Dia hanya butuh waktu,” kataku membela diri.

“Sampai kapan? Sampai kau pun ikut?”

Aku hanya bisa diam.

Cucuku berjalan sambil menyeret sepedanya. Satu per satu temannya berpamitan untuk pulang. Seperti matahari yang pulang ke barat, ombak yang pulang ke laut, ayam yang pulang ke kandang, semuanya punya tempat untuk pulang…

“Kakek, apa ayah ibu sudah pulang?”

…termasuk jiwa.