Apa yang menarik dari seekor tikus? Binatang ini bukan binatang yang nyaris punah sehingga orang-orang berjuang menyelamatkannya. Bukan pula binatang yang dianggap punya nilai. Saya bicara soal tikus got yang tumbuh secara liar. Dilihat dari keberadaannya secara nyata dan keberadaannya dalam ungkapan-ungkapan manusia, tikus selalu bernilai buruk. Ada beberapa pengalaman saya bersama tikus.

Dulu, waktu masih kelas 2 SD saya pernah diserang tikus. Waktu itu malam sekitar jam 8. Saya mau pulang dari warung di ujung gang setelah jajan es. Gangnya sempit, cuma muat buat dua orang jalan bergandengan. Di satu sisinya ada selokan. Dari situlah ada tikus yang tiba-tiba loncat ke jalan lalu lari ke arah saya. Ukurannya yang lumayan besar bikin nyali anak kelas 2 SD ini ciut.. Saya kaget waktu tikus itu tiba-tiba loncat dengan badannya yang basah ke pundak saya. Sial, es teh hasil tabungan saya hari itu tumpah saking kagetnya.

Saya kira itu pertama kali saya jadi jijik sama tikus. Binatang kecil, hitam, basah, bau, larinya cepat, bisa lompat sambil cakar pula! Tapi dulu saya tak pernah bertanya kenapa tikus bisa seperti itu. Toh, sampai sekarang saya heran kok ada tikus yang sekasar itu. Biasanya kan tikus itu penakut.

Saya pun sempat bertemu dengan tikus yang kurang takut. Waktu itu, lagi-lagi malam, ada bunyi ‘srak sruk srak sruk’ dari dapur. Mudah ditebak kalau itu pasti bunyi tikus. Saya lihat dia cari sisa makanan di keresek sampah. Lantas saya ambil sapu yang bersandar di dekat kulkas.

Baru kali itu saya menemukan tikus yang tidak peka sama sekali. Biasanya kalau ada gerakan sedikit saja tikus langsung kabur. Tapi kali itu berbeda. Dia dengan cueknya melahap sisa makanan padahal saya tidak mengendap-endap di belakangnya.

Pasang kuda-kuda, ambil ancang-ancang dan, ‘bugh’, saya pukul keras-keras tikus itu tepat di kepalanya pakai gagang sapu dari kayu. Tikus itu sekarat. Badannya kejang-kejang. Darah mengalir. Akhirnya mati. Saya kasihan juga heran kok ada tikus yang kayak begini. Jangan-jangan dia lagi sakit. Saya taruh bangkai tikus itu di kantung di mana tadi dia baru saja mendapatkan makanan terakhirnya, sambil merasa bersalah.

Dan kemarin saya merasa serba salah berhadapan dengan tikus. Kali ini, lagi-lagi malam – saya heran kenapa tikus selalu muncul malam hari – anak tikus yang entah bagaimana caranya tersesat di dalam bak mandi. Bak mandi tak terisi penuh dengan air. Kalau ini acara sirkus, mungkin tikus itu akan senang karena bisa menghibur. Tapi ini saat si tikus berusaha untuk hidup. Si tikus kecil itu berenang-renang agar tak tenggelam.

Saya tak tega membiarkan ia mati di sana. Saya pikir bagaimana kalau nanti dia mati terus tenggelam terus ada yang mandi. Menjijikkan. Tak tega pula saya membunuh tikus itu. Gak bisa saya sesadis kayak dulu. Akhirnya saya angkut tikus itu pakai gayung. Buka pintu rumah. Saya taruh dia di halaman. Kasihan, dia menggigil kedinginan. Serba salah saya jadinya. Tapi saya pikir biarlah. Biarlah hukum alam di luar sana yang memutuskan nasib tikus ini. Saya perhatikan tikus itu dari jendela. Perlahan dia menghilang, mencari rumput kering untuk dijadikan selimut.

Kasihan tikus. Pada dasarnya ia ingin hidup. Sayangnya ketika lingkungannya berbaur dengan lingkungan manusia, tikus dilarang hidup berdampingan dengan manusia. Merekalah yang dianggap menyerang lingkungan manusia. Mereka adalah pelaku, bukan korban. Padahal, siapa yang lebih dulu menempati ruang itu?

Akhirnya tikus hidup berdampingan dengan orang-orang miskin negeri ini. Bisa jadi lingkungan kumuh itu tempat bermain bagi mereka karena menyimpan tempat petak umpet yang lebih rumit dan lebih menyenangkan untuk bertahan hidup dari manusia. Jangan-jangan tikus dianggap sebagai sumber penyakit karena gaya hidupnya yang muncul gara-gara keberadaan manusia. Jangan-jangan ini karena dulu manusia punya dendam sama tikus entah gara-gara apa. Padahal tikus cuma ingin hidup.

Will Eisner (Life Force) bertanya, “Siapa yang tahu? Mengapa semua makhluk di muka bumi berjuang agar tetap hidup? Mengapa mereka lari terbirit-birit dari bahaya dan terus hidup melebihi rentang umur alamiah mereka, seakan ingin merespons daya hidup yang misterius? Jadi, pertanyaannya adalah mengapa? Apa gunanya?”

Ketika menulis tulisan ini, teman saya berujar, “Apaan nih? Membela koruptor?” Lho. Saya jadi semakin kasihan sama tikus. Selalu saja dianggap tak berguna, dijadikan tanda sesuatu yang jelek. Lingkungan yang buruk ataupun moral yang busuk. Kasihan tikus.