Judul Buku     : Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme: Kesaksian dari Tanah Bencana
Penulis            : Ahmad Arif
Penerbit        : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan        : Pertama, April 2010
Jumlah halaman    : 193 halaman
ISBN            : 978-979-91-0236-2

Minggu pagi, 26 Desember 2004, sebuah malapetaka besar melanda Aceh. Laut yang semula tenang seakan berkhianat dengan menyapu ribuan nyawa di daerah tersebut. Bencana sebesar Aceh ini tentu menyedot perhatian media. Goenawan Mohamad menyatakan bahwa di situlah ujian kemahiran jurnalistik berlangsung.

“Seorang wartawan harus mengerahkan segalanya: daya amatnya untuk detail, kemampuannya mengambil jarak dari peristiwa yang tragis agar fakta-fakta tidak tenggelam dalam emosi, dan pada saat yang sama tanpa kehilangan empati,” tulis Goenawan sebagai sambutan atas buku berjudul Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme.

Buku setebal 193 halaman ini memaparkan realitas disertai analisis penulisnya tentang peliputan yang dilakukan wartawan terhadap bencana tsunami di Aceh. Tak cuma itu, melalui buku ini Ahmad Arif seolah hendak membuka tabir dosa-dosa media dalam peliputan bencana sehingga memunculkan suatu debat yang pada akhirnya akan membawa kita pada kesepakatan mengenai nilai-nilai yang harus dijunjung mengenai peliputan atas suatu bencana.

Gaya penulisan buku ini memikat bagai sebuah novel. Di bagian awal, pembaca diajak untuk berempati kepada watawan dengan ditonjolkannya sisi-sisi manusiawi seorang wartawan. Setelah itu, satu persatu kelemahan wartawan kemudian media dibongkar. Hingga akhirnya pembaca dibawa menuju perdebatan mengenai nilai-nilai etis dalam jurnalisme.

Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme dibuka dengan kisah yang membawa pambaca merasakan pagi yang mengerikan di Aceh melalui pengalaman Bedu Saini, seorang wartawan foto Serambi Indonesia. Pagi itu, Bedu tengah bersantai bersama keluarganya di rumah yang berjarak sekitar dua kilometer dari pantai ketika gempa terjadi. Rupanya gempa tadi memancing naluri kewartawanan Bedu. Beberapa saat setelah gempa, sambil menenteng kameranya Bedu memacu sepeda motornya ke arah pusat Kota Banda Aceh.

Di sana ia menyaksikan kepanikan warga yang dikejar gelombang air yang bergulung-gulung. Ia menyaksikan sebuah drama kemanusiaan: “ …orang-orang berlarian, mobil-mobil terapung di permukaan air hitam pekat, seorang lelaki membopong anak kecil tak berbaju, dua pemuda mencoba menarik lelaki tua yang terjebak dalam air, dan beberapa adegan lain.” (halaman 3)

Saat beraksi dengan kameranya, Bedu belum menyadari bahwa bencana yang melanda kotanya adalah tsunami. Gairahnya ketika meliput bencana itu membuat Bedu lupa akan dunianya, terutama keluarganya. Ketika tersadar, ia bergegas kembali ke rumahnya. Sesampainya di sana, ia menemukan gelombang tsunami telah menghancurkan rumahnya.

“Aku kehilangan dua anak, ibu, dan seluruh harta benda akibat tsunami. Aku memang mendapat kepuasan batin sebagai wartawan foto, namun sekaligus perasaan gagal sebagai ayah dan anak,” kata Bedu Saini, 38 tahun. (halaman 2)

Kisah tragis tersebut mengantarkan kita pada pertanyaan dilematis tentang apa yang harus dilakukan seorang wartawan ketika berada di daerah bencana. Wartawan dapat meliput tentang korban dan pada saat yang sama ia berkemungkinan menjadi korban. Dalam bab berjudul Deadline: Garis Kematian, Ahmad Arif mengetengahkan topik tersebut. Menurut Ahmad, “Wartawan identik dengan tantangan, dengan ketegangan, dengan adrenalin yang terpompa keras. Dengan maut.” (halaman 18)

Kematian memang telah menjadi resiko yang mengancam pekerjaan seorang wartawan. Namun demikian, resiko tersebut dapat diminimalisasi dengan mengenali potensi resiko tersebut. Dalam kaitannya dengan bencana alam, wartawan sudah semestinya mengenali tanah tempat ia berdiri.

Dalam bab Negeri Bencana, Ahmad memaparkan realitas sekaligus kritik mengenai Indonesia yang ternyata selalu berada di bawah bayang-bayang bencana alam. Alam Indonesia yang terkepung oleh tiga lempeng tektonik dunia rupanya menyebabkan hal tersebut. Namun sayangnya hanya sedikit orang yang sadar atas ancaman tersebut sehingga masyarakat Indonesia selalu tidak siap mengantisipasi bencana yang terjadi. Serentetan bencana yang terjadi membuktikan kurangnya pendidikan akan bencana sekaligus pendidikan akan peliputan bencana.

“Di kalangan media di Indonesia, pendidikan meliput bencana hampir tidak ada. Dan media-media di indonesia juga belum memiliki standar operasional yang jelas untuk meliput bencana. Akibatnya, wacana tentang tanah bencana tak pernah menjadi arus utama di kalangan media massa Indonesia.” (halaman 34)

Hal tersebut kemudian ditegaskan melalui pengalaman-pengalaman para waratawan ketika meliput bencana di Aceh pada bab Di Pintu Bencana. Ahmad pun tidak lupa menambahkan kisah tentang apa yang ia lihat ketika pertama kali memasuki kawasan yang dilanda tsunami..

Banyak wartawan parasut yang tanpa persiapan masuk ke Aceh. Mereka tak membawa alat komunikasi yang tepat bahkan perbekalan untuk bertahan hidup. Alhasil, banyak wartawan yang menjadi pengungsi.

Dalam catatan kaki di halaman 47 dijelaskan bahwa wartawan parasut adalah istilah yang biasa dipakai kepada wartawan amatir yang miskin pengetahuan dan pengalaman yang diterjunkan dalam sebuah liputan besar. Istilah ini sering digunakan sebagai lawan dari koresponden lokal yang menetap di daerah.

Berbeda dengan wartawan parasut nasional, wartawan media internasional terlihat telah melakukan persiapan matang. Koresponden ABC yang tiba sehari setalah tsunami dikabarkan telah dibekali dengan obat-obat dan peralatan medis, kamera DV, laptop, telepon satelit, baterai isi ulang, perbekalan makanan, tablet untuk menjernihkan air, dan bahan bakar.

Bahkan, pada minggu pertama setelah tsunami, ABC mengirimkan konvoi tiga truk ke Aceh yang terdiri dari peralatan satelit, makanan, obat-obatan, air, generator listrik, bahan bakar, dan lain-lain.

Diakui oleh Ahmad bahwa, “Saya hanya bisa ‘iri’ dengan mereka yang dengan lancarnya mengirim berita jauh ke luar negeri menggunakan pemancar satelit. Sementara itu, saya dan beberapa rekan wartawan domestik hanya bisa menyimpan hasil pengamatan, wawancara, dan foto-foto dari lapangan karena tidak bisa mengirimkannya ke luar Aceh,” (halaman 52)

Kurangnya kesiapan wartawan juga jaringan informasi yang rapuh di negeri ini menyebabkan hari-hari pertama setelah tsunami diselimuti berita berkabut. Media-media nasional mengabarkan dampak bencana dengan mengutip sumber-sumber dari luar negeri.  Tidak ada kejelasan tentang bencana tsunami yang terjadi di Aceh.

Ketidakjelasan informasi seperti ini pun pernah terjadi dalam kasus pesawat Adam Air yang jatuh. Bahkan beberapa media mengabarkan informasi sesat yang menyatakan bahwa bangkai pesawat telah ditemukan. Media-media yang keliru, melupakan verifikasi sebagai inti dari jurnalisme. Hal tersebut diulas dalam bab Mewartakan Bencana.

Dalam bab yang sama muncul sebuah masalah dilematis yang dihadapi wartawan di daerah bencana: meliput atau membantu. Menurut Ahmad, “…ketika para wartawan di lapangan berada di pintu dilema dan terguncang secara emosi, masyarakat luas seakan tidak mau peduli dengan dilema yang dihadapi para wartawannya di lapangan. Mereka hanya menuntut laporan-laporan yang lengkap, menyentuh, dan ‘laku dijual’” (halaman 85)

Tak berhenti pada pengalamannya ketika meliput di hari-hari pertama bencana, Ahmad memaparkan pula bagaimana kegiatan peliputan yang dilakukan wartawan di masa-masa rekonstruksi beserta beragam masalah yang dihadapi baik oleh wartawan maupun masyarakat yang menjadi korban bencana.

Setidaknya ada tujuh hal yang disebut Ahmad sebagai dosa media dalam bab Dosa-dosa Media. Pertama, media ia anggap alpa mengingatkan bencana. Hal ini berkaitan dengan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana. Dengan jangkauannya yang luas, media dapat berperan untuk mengembangkan pendidikan bencana untuk masyarakat.

Kedua, media terlalu lambat dalam merespons suatu bencana. Hal ini disebabkan tidak adanya bayangan tentang potensi bencana yang terjadi. Ketiga, pelaporan hampir tak menyentuh akar masalah sehingga gagal mendorong perubahan. Dosa lainnya adalah jurnalisme mendompleng atau embeded journalism yang membuat media kehilangan independensinya.

Berkaitan dengan korban bencana, tak jarang wartawan terlalu tidak acuh terhadap kondisi mental korban yang dijadikan terwawancara. Kemudian, ketika berita pada akhirnya mencapai titik jenuh dan digantikan berita lainnya, para korban ditinggalkan. Ahmad menilai, “Logika komersial, desakan pemilik modal, dan gelontoran iklan itu pula yang terkadang membuat media meninggalkan korban bencana.” (halaman 147)

Dosa ketujuh, bahaya gelombang kedua adalah istilah yang digunakan Ahmad untuk menunjuk masalah yang bisa menyeret media ke lembah kekacauan junalistik. Masalah tersebut antara lain, wartawan yang berpindah profesi karena tergoda oleh uang proyek rekonstruksi dan media yang mengalami keterbelahan antara melakukan liputan dan menggalang dana. Namun, di tengah masalah tersebut, rupanya muncul media-media komunitas yang menjadi media tandingan, sebagai jawaban atas “kekecewaan terhadap sempitnya ruang penyaluran berita di media-media arus utama.” (halaman 157)

Pada dasarnya buku ini telah berhasil memaparkan realitas yang terjadi dalam peliputan suatu bencana di Indonesia. Buku ini begitu membumi dengan digunakannya orang-orang yang benar-benar berada di Aceh ketika bencana terjadi seperti wartawan Aceh dan para korban sebagai narasumber.

Namun, isi buku ini akan lebih kaya andai saja dilengkapi oleh pandangan dari orang-orang yang berada di jajaran atas dalam struktur organisasi media massa terkait dengan masalah-masalah yang disebutkan sebagai dosa-dosa media. Hal ini tentunya akan membuat pembaca mendapatkan pandangan yang lebih luas tentang media massa di negeri ini.

Buku ini layak dibaca setiap orang yang punya ketertarikan terhadap bidang jurnalisme. Bagi para wartawan dan semua orang yang bekerja di ranah media, buku ini dapat menjadi sebuah refleksi untuk mengembangkan dunia jurnalisme ke arah yang lebih baik.