Tahun ini Bandung akan merayakan ulang tahunnya yang ke-200. Namun, masih banyak yang perlu dibenahi. Tulisan ini menyiratkan rasa rindu saya terhadap kota yang dulu sempat hijau ini.

Selasa terakhir di tahun 2009. Aroma hujan sudah tercium sejak pagi hari. Awan hitam bergulung memayungi hingar bingar kota. Jalan-jalan dipadati kendaraan.     Tepat ketika saya berada di jalan Asia Afrika, hujan turun. Saya memutuskan belok ke arah jalan Alkateri. Di barisan sebelah kanan terdapat sebuah warung kopi. Tulisan Warung Kopi Purnama tergantung di atas pintu masuk.

Saya memilih duduk di pojok supaya bisa mengamati seluruh ruangan. Meja berderet rapi dikelilingi kursi-kursi kayu. Empat bola lampu kuning dengan hiasan bunga bergelantungan pada tali hitamnya masing-masing. Bau hujan melintasi celah-celah jendela.

Seorang pelayan berkemeja putih menghampiri. “Ada yang bisa saya bantu?”

Saya memesan secangkir kopi dengan roti srikaya. Tak lama ia kembali dengan nampan yang dibawa hati-hati.

 Roti yang saya pesan disajikan sederhana. Dua lembar roti tawar diolesi selai srikaya yang tebal. Kopi hitamnya tidak terlalu pahit. Rasanya agak asam, namun tak membuat mual. Takarannya pas.

Sambil menunggu hujan saya keluarkan buku Ekspedisi Anjer-Panaroekan dari dalam tas. Isinya adalah rangkuman perjalanan jurnalistik harian Kompas yang mengambil tema 200 tahun jalan raya pos.

Ada banyak judul dalam buku ini. Tapi hanya beberapa yang menarik perhatian. Salah satunya adalah Menuju Kota Gagal. Dalam tulisan itu, disebutkan beberapa contoh kota di Indonesia yang berlari ke arah yang salah. Mengapa? Alih-alih tumbuh menjadi kota dengan warga yang sejahtera, kota-kota di Indonesia tumbuh menjadi kota gagal dengan angka pengangguran yang tinggi, kualitas lingkungan sosial dan alam yang menurun, serta kinerja sarana serta prasarana perkotaan yang memburuk.

Bandung adalah salah satu kota yang mereka – penulis berita – anggap sebagai kota yang ‘nyaris’ gagal.

***

Beberapa lukisan dan foto dipajang untuk menghias ruangan. Ada lukisan bunga. Ada juga iklan biskuit zaman dulu. Saya lupa bagaimana tulisan lengkapnya. Tapi intinya, biskuit itu adalah biskuit terenak di seluruh dunia. Ia ditulis dengan bahasa zaman dulu –  yang terasa konyol untuk ukuran zaman sekarang, setidaknya menurut ukuran saya – dan gambar tangan zaman dulu.

Di sampingnya ada foto Bandung zaman dulu. Satu foto yang saya tahu adalah foto kantor pos di jalan Asia-Afrika. Warnanya hitam putih, tapi saya tahu di sekeliling foto yang tidak terpotret itu hijaunya pepohonan meneduhi jalan di bawahnya. Kala itu, Bandung masih hijau.

Seperti yang disebutkan Kompas dalam buku tadi, pada 1930 Bandung direncanakan akan dibangun dengan konsep kota taman (garden city). Penggagasnya adalah Thomas Karsten, yang juga membuat masterplan untuk beberapa kota lainnya di Indonesia.

Namun, apa yang terjadi hari ini. Dengan baik, Kompas merangkum keadaan Bandung masa ini. Disebutkan bahwa:

Jalan-jalannya macet, terutama saat hari libur. Sampah menjadi masalah yang tak teratasi. Taman-taman yang membuat Bandung terkenal sebagai Kota Taman hampir tak ada jejaknya lagi. Taman Ganesha, Maluku, dan Cilaki dipenuhi warung-warung. Taman Sari, yang dulu lapang, ini dipenuhi rumah.

Tata kota tumpang tindih, kawasan Bandung utara yang didesain untuk permukiman tumbuh tak terkendali, disesaki perkantoran dan pertooan. Pertumbuhan kota terus meranngsek ke utara, menyebabkan area resapan air berkurang.

Pertumbuhan lebih tak terkontrol terlihat di Bandung selatan. Perumahan baru mengonversi lahan pertanian, tanpa disertai infrastruktur dasar seperti drainase memadai. Akibatnya, kawasan Bandung selatan sering kebanjiran. (Kompas, 2008:382)

Saya jadi merasa kurang beruntung hidup di Bandung masa ini. Rasanya begitu nyamannya Bandung masa lalu. Meskipun memang pada zaman dulu ada diskriminasi terhadap warga pribumi, tapi mungkin si Bandung sendiri berharap dapat hidup kembali seperti masa lalu. Saat ia masih hijau. Saat ia masih muda.

***

Kopi saya nyaris habis. Saya meminumnya secara perlahan. Saya rasakan aromanya yang tersisa sambil berhati-hati agar tidak meminum ampasnya. Hujan di luar sudah reda. Namun, suasana masih suram. Sinar matahari masih tertahan oleh awan. Di luar pula, Bandung merintih, menahan agar ampasnya tidak pernah terlihat.