1
Aku senang berada dalam dekapannya. Hangat dan aman.
Wajahnya yang berseri selalu menemaniku. Siang dan malam.

3
Ah, Ibu. Jangan biarkan mereka mencubit pipiku.
Meskipun memang, merahnya pipiku bukan karena itu, tapi karena kau selalu membangga-banggakan aku di depan mereka.

5
Aduh, Bu. Aku tak tahan duduk berlama-lama di sini.
Eh, Kemana Ibu?
Kulongokkan kepalaku dan kulihat Ibu masih menungguku sambil tersenyum melihatku.

12
Matematika. Biologi. Bahasa Inggris. Apa, sih, yang ia tidak bisa? Wah, ibuku pintar sekali. Ia bisa segalanya. Aku senang belajar bersamanya.

17
Ah, Ibu ketinggalan zaman.

22
Sudahlah, Bu. Diam saja. Kita ini beda generasi.

26
Ibu cukup berdandan rapi nanti. Pakailah itu kebaya.
Tak perlu repot pikir-pikir siapa pasangan hidupku. Toh, itu urusanku, jalan hidupku. Akulah yang berhak menentukan.
Ibu cukup berdiri di sampingku sambil tersenyum menerima tamu.

33

Masih kecil, sudah badung. Kenapa anakku ini? Kenapa pula uang tabungan kami cepat habis.
Mungkin Ibu tahu caranya.

40
Yang mana ya? Lebih baik kutanya Ibu.

56
Andai Ibu masih ada di sini.

Didedikasikan untuk ibunda dari Rega Parama yang meninggal pada Rabu, 2 Desember 2009, pukul 19.10 – semoga beliau diterima di sisi-Nya – dan semua ibu di dunia.