Ikigami-01_FJP_175x247

Gila. Itu kata pertama yang mendengung di otak saya setelah selesai membaca komik Death’s Notice. Awalnya saya menyangsikan cerita yang dikemas dalam komik ini. Dengar saja judulnya: Death’s Notice: drama yang akan mengguncang jiwa. Agak sedikit norak. Terdengar seperti headline berita infotainment. Saya langsung beranggapan komik ini hanya ingin mendompleng kesuksesan komik Death Note. Judul keduanya mirip. Tetapi rupanya saya salah. Karya Mase Motoro ini benar-benar punya sesuatu yang baru.

Negara ini memiliki Undang-Undang Pemeliharaan Kemakmuran Negara yang membuat sebagian anak muda mati. Tujuannya agar para warga kembali menghargai nilai kehidupan. Setiap anak yang masuk SD di seluruh negeri akan diberikan vaksin Pencegahan untuk Kemakmuran Negara. Satu di antara 1000 suntukan terdapat nano kapsul khusus. Kapsul tersebut akan meledak dan merenggut nyawa anak-anak di hari yang sudah ditentukan saat mereka berumur antara 18 sampai 24 tahun. Tetapi, para anak muda itu baru akan mengetahui takdir mereka 24 jam sebelum waktu kematian mereka tiba. Dan sejak menerima surat pemberitahuan kematian atau ikigami, hari terakhir mereka pun dimulai.

Saya tahu komik ini dari teman. Dia bilang ada komik bagus. Ternyata memang bagus. Waktu itu saya baca yang jilid satu. Lupa saya hari apa itu. Yang saya ingat, hari Sabtu saya coba cari ke Togamas. Ternyata sudah ada jilid duanya. Tapi sayang, dua jilid itu sudah laku. Saya cari di Gramedia, yang tersisa cuma jilid duanya.

Saya baru baca dua jilid. Di tiap jilid ada dua episode. Jadi total saya baru baca empat episode. Di tiap episode ada satu cerita tentang satu orang yang mendapatkan ikigami. Tiap episode sendiri bercerita tentang apa yang mereka lakukan dalam hari terakhir mereka. Ada tentang seorang musisi baru, seorang anak korban bullying, seorang kekasih dari seorang sutradara pecandu narkoba, dan seorang perawat yang ceroboh.

Menarik. Sang musisi yang dikenal menyanyikan lagu yang mudah dicerna dan cenderung tidak punya jiwa tiba-tiba menyanyikan sebuah lagu yang idealis, terkenang rekannya dulu yang bersama-sama berjuang di jalanan.

Anak korban bullying membalas dendam kepada semua yang dulu sempat meremehkan dirinya. Namun, pada akhirnya balas dendam itu tak menimbulkan rasa puas dalam dirinya.

Si kekasih yang mencoba menghentikan seorang sutradara mengonsumsi narkoba malah ikut mengonsumsi narkoba. Ia mengonsumsi sejenis obat yang diyakini bisa memperpanjang masa hidup seseorang, setidaknya sejam setelah jantung berhenti berdenyut, demi menjumpai sang sutradara yang berusaha mati-matian bertemu dengannya. Malang, ia malah mati sebelum waktu yang dijadwalkan.

Seorang perawat baru saja mendapatkan kembali rasa percaya dirinya setelah dipercaya mengurus seorang nenek yang menganggap dia adalah suaminya yang dulu pergi berperang. Si perawat pada mulanya merasa shock ketika mendapat ikigami, seperti tokoh-tokoh sebelumnya. Ia kemudian pergi ke pusat pelayanan yang memberikan terapi terhadap penerima ikigami yang shock.

Di sana ia mendapat obat penenang. Sang terapis pun berkata, “Shoji, Selama kita hidup, siapa pun pasti pernah berpikir tentang kematian karena kematian merupakan ketakutan terbesar bagi makhluk hidup. Walaupun orang-orang bijak memberi tahu kita kalau kematian adalah ketentaraman abadi atau pintu menuju kedamaian, tapi insting kita tak bisa menghilangkan ketakutan itu. Yang jelas, itu adalah pemikiran dari mereka yang hidup. Jadi kau tak bisa berharap apa-apa dariku karena aku tak bisa melenyapkan ketakutan itu.

“Tapi, Shoji, apa kau pernah menanyanyak ini pada dirimu sendiri? Selama ini apa yang kau harapkan dalam hidupmu? Dan apa harapanmu ke depannya? Lalu coba bayangkan kalau kau mewariskan keinginanmu itu pada orang yang akan terus hidup setelah kau tak ada. Dan bayangkan sosok orang itu yang akan terus berusaha hidup untuk mewujudkan keinginan itu. Dan bayangkan juga kalau keinginan itu membimbing masa depan yang belum terlihat ke arah yang benar.

“Kalau seandainya kau bisa membayangkan itu, maka sejak saat itulah kau bisa terus hidup untuk selamanya. Daripada memikirkan ketakutan pada kematian lebihbaik kau coba pikirkan lagi apa harapanmu dan pada siapa kau akan mewariskannya…masih ada waktu.”

Saya selalu ingat apa kata Mochta Lubis tentang karya sastra. Ia pernah menulis, “Pengarang melalui sastra mampu membantu masyarakat menyadari masalah yang sangat kritis pada zamannya.”

Death’s Notice kembali mengingatkan saya pada pertanyaan apa sebenarnya tujuan kita hidup di dunia ini? Semua orang saat ini rasanya berjalan pada jalurnya masing-masing yang lebih banyak dipengaruhi oleh emosi dan nafsu atas pemenuhan kebutuhan. Bukankah kita rindu akan keadilan sosial? Bukankah kita sama-sama menginginkan keadilan sosial? Karena apabila keadilan sosial tercapai, setiap manusia akan kembali menjadi manusia, bukan robot, bukan alat, bukan hewan, bukan cuma sebentuk daging yang dipenuhi emosi.

Lalu apa yang akan kita lakukan apabila mendapat ikigami? Wow, itu gila!