Sekitar 16.20 kami menunggu jawaban kepastian dari Andreas Harsono di depan Permata Senayan. Hari itu, Selasa (13/10), Harsono memberikan janji untuk bertemu di apartemennya tepat pukul empat sore. Namun, sms tidak dibalas, telepon tidak diangkat.

Di depan pintu apartemennya, beberapa sandal dan sepasang sepatu tergeletak tidak teratur. Ah, ada kemungkinan dia ada di dalam. Ketukan pertama. Tak ada jawaban. Ketukan kedua. Sepi. Ketukan ketiga. Saya mulai berasumsi ia mungkin kelelahan karena kemarin baru dari Jogja dan mungkin tadi baru saja berurusan dengan Polisi. Ketukan keempat. “Coba ketuk tiga kali lagi,” kata saya. Teman saya yang mengetuk tidak mendengar suara apa-apa dari dalam.

Sekitar pukul 17.40 kami menyerah. Simpulan sudah bulat: ia tidak ada dan hari itu kami tak mungkin melakukan wawancara. Kamipun pulang dan berpisah di persimpangan jalan di depan apartemennya.

“Ke Lebak Bulus naik apa, Pak?” tanya saya kepada Satpam.

“Naik 86, dik. Dari seberang sana”

“Oh, mari pak,” sambil menyeberang jalan.

Apakah seperti ini kerja wartawan di Jakarta? Kadangkala orang membatalkan janji sepihak. Padahal kita sudah menunggu lama. Lokasi yang teramat jauh. Waktu yang dihabiskan terlalu banyak hanya untuk sampai di suatu tempat. Bosan, penat, suntuk. Mungkin itu yang akan saya rasakan kala duduk di metro mini.

Ah, Jakarta. Sore hari pun sudah tampak gelap. Malamnya tak berbintang. Asap-asap pekat membekam ruas-ruas tenggorokan. Pergi terbang bersama asap rokok di ujung jari Saya. Bisakah saya betah tinggal di sini? Nampak mustahil.

Dering. Barisan nomor muncul di layar ponsel. Tak tahu siapa itu. Saya coba angkat.

“Kalian di mana?” tanya suara di ujung telepon. Terdengar tergesa-gesa.

“Pak Andreas Harsono?”

“Iya, Yanti, kalian ada di mana? Jadi ketemu hari ini?” dia kira saya Yanti.

“Saya di bawah apartemen Bapak”

“Oh, langsung saja naik saya di…”

“1809 kan Pak?”

“Iya, langsung aja naik.”

“Oke Pak, saya hubungi Yanti dulu.”

Panik.

Saya coba telepon Yanti. Dia ada dua nomor. Bergantian saya telepon berkali-kali. Tak ada jawaban dari keduanya. Huff. Nampaknya harus sendiri. Nama besar Andreas Harsono membuat saya gugup.

Sialan Yanti. Recorder dia yang pegang. Bekal saya cuma pulpen dan kertas. Apa mungkin saya harus catat-catat. Malas saya kalau wawancara harus bikin catatan. Ah, biarlah, pikir saya sambil tekan nomor 18 di lift.

Sandal di luar pintu tadi masih bergeletakkan namun kini tanpa sepasang sepatu. Saya ketuk tiga kali. Tak ada jawaban. Jangan-jangan salah nomor dari tadi.

Sayup-sayup saya dengar suara langkah di balik pintu. Itu pembantu Harsono yang buka pintu. Saya dipersilakan masuk. Sunyi. Setiap langkah terdengar jelas. Di dalam, Harsono baru bangkit dari depan meja kerjanya. Menyambut saya dengan senyum dan jabat tangan sambil bilang maaf karena dari tadi siang dia tidur. Saya jelaskan kenapa Yanti tidak ada dan kenapa malah saya yang ketemu dia. Dia bilang maaf sekali lagi. Ponselnya tanpa dering bekas seminar di Jogja kemarin.

“Sudah lama Pak di sini?” saya mulai bertanya.

“Dari tahun 2003” jawabnya singkat. Mungkin ia masih mengantuk.

“Ada gempa di mana-mana nggak bikin takut, Pak?”

“Bukan saya,tapi dia (yang takut),” jawab Harsono sambil menunjuk Si Mbak, pembantu rumah tangganya, di seberang ruangan. Mereka berdua tertawa.

Ruangan itu terasa luas. Saya rasa harusnya di sana ada tiga ruangan: ruang tamu, ruang kerja, dan ruang makan sekaligus dapur. Tapi tak ada sekat yang memisahkan. Tembok-tembok cuma memisahkan ruangan luas itu dengan kamar-kamar yang lain.

Saya dipersilakan duduk di kursi di belakang meja kopi bundar. Di atasnya banyak tumpukan buku soal Ahmadiyah. Meja itu ada di tengah ruangan. Tepat di depan rak buku sepanjang lebih kurang tiga meter yang ujung atasnya menyentuh langit-langit. Isinya penuh dan tersusun rapi. Mungkin rak buku itu yang menandai ruang kerjanya. Di dinding digantung poster-poster bertema jurnalisme dan foto-foto. Di dinding depan meja kerjanya, ada satu foto: Harsono sedang duduk bersama seorang laki-laki berambut putih dengan kepala saling bersandar. Saya terka itu Bill Kovach, mengingat dia kagum sama Kovach dan nampaknya latar foto itu tidak ada di Indonesia.

“Sebelum lupa, saya mau titip sesuatu buat Yanti,” kata Harsono setelah telepon Yanti buat minta maaf. Ia pergi ke sebelah kanan Saya. Di bagian bawah rak buku, sebuah kotak putih ia ambil. Dia keluarkan isinya sambil bilang, “Tapi maaf saya cuma punya satu, jadi kamu nggak kebagian.”

Ah. Tapi tak apa. Saya lebih suka kalau dikasih majalah Pantau. Niat saya, di akhir wawancara majalah itu akan saya minta. Di akhir, Saya sempat buka-buka majalah itu, toh dari dulu saya penasaran sama rupa fisiknya. Tapi agak berat juga mau minta majalah itu. Majalah sudah tidak terbit, mungkin yang saat itu saya baca kenang-kenangan terakhir dia.

“Ada niat nggak Pak bikin Pantau lagi?” saya tanya.

“Sudah nggak ada tenaganya. Sudah tua saya, Faisal. Harusnya generasi Kamu yang bikin. Kalau mau, Saya kasih nama Pantau itu. Tapi mungkin harus konsultasi dulu sama teman-teman yang lain” dia bilang sambil senyum.

Wow. Bikin Pantau? Tantangankah? Oke, beberapa tahun lagi saya jawab, batin saya dalam hati.

Dengan ditemani segelas kopi, Saya memulai obrolan tentang jurnalisme investigatif.

Kalau tak salah tahun 2004, atau mungkin sampai sekarang, Anda tergabung dalam Investigative Writer and …

ICIJ, International Consortium of Investigative Journalist. Saya bergabung dengan organisasi itu sejak tahun 1999.

Seperti apakah organisasi itu?

Organisasi ini adalah organisasi tertutup. Anggotanya ada 70 orang yang terdiri dari berbagai negara. Dari Indonesia ada Saya dan Goenawan Mohamad. Goenawan Mohamad sendiri jadi pengurus organisasi itu.

Tujuan dari organisasi ini adalah membongkar berbagai skandal yang bersifat internasional, sifatnya lintas negara.

Hasil liputannya diterbitkan dalam bentuk apa?

Organisasi ini tidak punya jurnal seperti majalah atau suratkabar. Tetapi informasi yang kami dapat seringkali dikutip oleh berbagai media massa di berbagai belahan dunia. Ada lebih dari 600 media yang sering memberitakan informasi yang kami dapat.Di situs kami Anda bisa membaca banyak hasil investigasi yang kami peroleh. Ada banyak tema mulai dari rokok, militerisme, privatisasi air, hak asasi manusia. Ada macam-macam.

Apa benar, secara statistik wartawan investigasi di negara ini masih sedikit?

Ya. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Investigasi di Indonesia ini agak menyedihkan, padahal kalau kita lihat, ada banyak masalah yang semestinya bisa diinvestigasi.

Di Indonesia, rata-rata investigasi itu cuma buat gagah-gagahan. Yang dikejar itu hal-hal yang sensasional. Misalnya saja kasus yang paling mudah, tentang bakso tikus. Hasilnya masih kabur. Malah menimbulkan prasangka. Tidak membantu masyarakat memahami permasalahannya.

Apakah Anda mencoba bilang masih banyak liputan investigasi di Indonesia yang belum bisa dikategorikan liputan investigasi? Itu berarti ada titik-titik tertentu yang belum dilalui. Menurut Anda, apa saja yang membuat sebuah liputan itu masuk kategori liputan investigasi?

Ada tiga, pertama karya original wartawan. Liputan itu berawal dari ide yang dilontarkan oleh wartawan. Bukan cerita tentang investigasi yang dilakukan orang lain.

Kemudian mesti terbukti final. Hal ini berkaitan dengan hukum. Apabila kemudian ada pihak yang menuntut Anda. Anda dapat membuktikan kebenaran dari liputan Anda. Hitam putihnya sudah jelas.

Ketiga kejahatan publik. Kebanyakan kejahatan publik itu berlawanan dengan hukum. Tetapi ada pula yang tidak berlawanan dengan hukum. Saya tunjukkan sesuatu.

(Harsono menghampiri laptopnya. Membuka sebuah file berjudul Wild Money. Saya melihat dari sampingnya)

Ini karya orang Amerika tentang industri kayu di Kalimantan. Di sana masyarakat kehilangan lahan. Tanggung jawab sosial perusahaan, pajak yang dibayar tidak seimbang, terlalu kecil dibanding keuntungan yang dikeruk perusahaan.

Pajak harusnya dalam nilai dolar yang nilainya cenderung stabil. Tapi pajak ditetapkan dalam rupiah. Coba bayangkan, saat kurs rupiah hanya lima ribu, berapa yang dibayar perusahaan. Ketka sekarang sudah lebih dari sepuluh ribu? Padahal keuntungan yang didapat perusahaan itu dolar.

Ini karya satu orang Amerika. Di mana wartawan Indonesia? Tidak ada yang sadar dengan hal-hal semacam ini.

Dalam laporan ini, teknik yang digunakan wartawan lebih fokus pada analisa accounting. Hasilnya kemudian ia kaitkan dengan realitas.

Umumnya investigasi dianggap tentang penyamaran. Bahkan ada yang sampai mencuri dokumen. Bagaimana tanggapan Anda tentang ini?

Saya sangat tidak setuju dengan mencuri. Wartawan adalah pekerjaan yang mulia. Apakah kita harus mengotorinya dengan cara seperti itu? Di situ ada benturan dengan moral dan etika. Bekerja sebagai wartawan pun ada kode etiknya. Kode etik itulah yang kita gunakan sebagai batasan. Apakah kode etik membenarkan pencurian?

Lalu, bagaimana dengan informasi yang off the record?

Tetap off the record. Tidak dapat kita gunakan untuk apa pun.

Bahkan untuk menggertak narasumber lain?

Ya. Informasi itu hanya untuk si wartawan dan pemberi informasi dan tidak boleh wartawan itu memberikan informasi itu kepada siapa pun.

Kecuali informasi background. Informasi itu boleh dikutip tetapi tidak dengan menyebutkan siapa yang menyatakan itu. Ketika wawancara, hal-hal seperti ini harus dipahami. Wartawan dan narasumber harus punya perjanjian tentang suatu informasi. Harus jelas mana yang boleh dikutip, mana yang off the record.

Menurut Anda apa saja yang dibutuhkan seorang wartawan investigasi?

Ia harus memiliki pengetahuan soal accounting. Seperti dalam Wild Money, si wartawan menggunakan analisa keuangan dalam investigasinya. Wartawan harus punya background tertentu yang kuat. Misalnya George Aditjondro. Dia investigator yang hebat. Dia punya background ilmu politik yang kuat.

Kedua, kemampuan interpretasi. Untuk mengendus berita, ia harus punya kemampuan interpretasi yang baik. Dia harus bisa merangkai dokumen-dokumen, peristiwa-peristiwa.

Kemudian nasib baik. (tertawa)

Nampaknya yang ketiga itu jadi yang paling sulit.

Kadang-kadang investigasi membawa kita pada keadaan yang penuh resiko. Kadang taruhannya nyawa. Bisa dibunuh gara-gara pekerjaan sendiri.

Sistem sosial, sistem politik, sistem hukum, dan sistem budaya katanya memiliki pengaruh terhadap tumbuh kembangnya jurnalime investigasi di sebuah negara? Bagaimana Anda melihat ini?

Ketika kita bicara Indonesia, Indonesia yang mana? Ketika turun ke lapangan, apakah Indonesia itu ada? Misalnya di Pontianak. Di sana preman-preman memiliki sistem sendiri. Sistem Indonesia yang kita kenal tidak punya pengaruh buat mereka. Ada aturan-aturan tertentu yang berlaku di sana. Kita mesti pandai-pandai menyesuaikan diri dan menyiapkan antisipasi.

(ponsel Harsono berdering. Ia kemudian mengetik sebuah pesan)

Saat ini saya punya ritual. Tiap pagi sama malam harus mengirim pesan ke teman.

(Ia kemudian menunjukkan jadwal alarm ponselnya. Di dalam kotak di samping pukul 18.55 dan 06.55, ada tanda checklist)

Namanya backup system. Jika dalam satu jam saya tidak kasih kabar, teman saya bakal cari tahu kepastian di mana saya berada. Ada tahap-tahapnya. Dia bakal tanya istri saya, orang di rumah, kemudian teman-teman saya. Kalau masih belum diketahui, dia bakal telepon polisi. Ini terkait dengan kasus di Pontianak. Gara-gara itu, saya dapat ancaman, teror. Tanya dia (telunjuknya mengarah ke Si Mbak). Gimana Mbak?

Bener, Mbak? Suka dapat teror?

(Saya bertanya pada Si Mbak)

Iya, Mas. Kadang-kadang suka ada telepon. Diangkat langsung marah-marah. Keluarlah itu bahasa kebun binatang. Segala macam keluar.

Oh, jadi ini. Kata Yanti Anda berurusan sama Polisi. Untung tadi kami belum tahu ini. Coba kalau tahu, sudah kami telepon Polisi.

Saya juga punya pengacara yang siap membantu. Sistem ini juga mengatur di mana saya harus sembunyi, berapa lama harus sembunyi kalau-kalau terjadi sesuatu.

Lantas Bagaimana Anda menanggapi ancaman-ancaman itu?

Lapor Polisi.

(Harsono kemudian menunjukkan beberapa sms bernada ancaman. Lalu ia beralih ke laptopnya. Membuka blognya. Di situ ia mencari-cari posting dengan banyak comment. Posting yang kontroversial cenderung menuai banyak comment. Dari situ Saya perhatikan banyak umpatan emosional yang mencerminkan ketidaksetujuan mereka dengan Harsono. Harsono pun membacakan beberapa comment itu dengan dingin. Anjing, Cina, Bangsat, ketiga kata itu yang paling sering digunakan.)

Wow. Memang seperti ini ya, Pak, masyarakat kita. Masih tertutup. Belum bisa menerima apa yang berbenturan dengan pikiran mereka. Di negara mana jurnalisme investigasi berkembang dengan baik?

Di Amerika, masyarakatnya sudah terbuka. Namun, ancaman-ancaman terhadap wartawan investigasi tetap ada karena mereka mengungkap apa yang tersembunyi. Tentu akan selalu ada pihak yang tersinggung. Apa boleh buat, pekerjaan ini memang berat. Resikonya begitu tinggi.

Jadi, resiko inilah yang membuat investigasi di Indonesia kurang terasa dengungnya?

Bisa jadi. Wartawan kita kayaknya kurang nyali. Di kita pun belum punya pengetahuan yang mumpuni. Kemudian, upah pun bisa jadi alasan. Jika kerja standar dan kerja keras dihargai sama, untuk apa kita kerja terlalu keras?

Tapi George (Aditjondro) pernah bilang, investigasi itu kayak mobil di jalan.. Teror, ancaman itu sudah seperti penyok di mobil. Mobil ketika jalan di jalan yang rata, yang lurus-lurus saja, tidak ada bekasnya, apa buktinya Anda sudah pernah berjalan?

Menurut Anda, berapa Saya dibayar untuk satu kali liputan?

(Saya mengangkat bahu)

Guess.

Sepuluh jutakah?

(sambil tersenyum) Terlalu murah…Seratus lima puluh juta.

Lihat di mana Saya sekarang. Lihat siapa tetangga Saya. Tetangga Saya bintang film, lho, Faisal. Siapa itu? Siapa saja, Mbak, bintang film yang tinggal di sini? Agnes Monica.

(Si Mbak buru-buru mengoreksi)

Bukan. Pacarnya yang tinggal di sini. Terus ada Cynthia Lamusu (?). Siapa lagi ya?

Tapi saya yakin, bukan uang yang membuat seorang Andreas Harsono menjalani pekerjaan yang menarik banyak resiko ini. Apa yang membuat Anda menekuni dunia investigasi?

Kenapa, Mbak? (ia bertanya pada Si Mbak) Kenapa, Bapak ini kerja kayak gini sampai sekarang?

(Saya menengok ke arah Si Mbak. Ia menggeleng, bingung. Beberapa saat Harsono terdiam)

Ya, Saya suka.

(ia tersenyum)