daripada hanya disimpan dalam hardisk komputer lebih baik saya sebarkan…

*******************************************************************************************************************************

“rather than love, than money, than fame, than faith, than fairness, give me truth”

-Henry David Thoreau-

Cintailah kebenaran. Sikap ini sangat fundamental bagi pemikir yang baik karena sikap ini senantiasa menggerakkan si pemikir untuk mencari, mengusut, meningkatkan mutu penalarannya. Cinta terhadap kebenaran diwujudkan dalam kerajinan (jauh dari kemalasan, jauh dari takut akan kesulitan dan jauh dari kecerobohan) serta diwujudkan dalam kejujuran, yakni sikap kejiwaan yang selalu siap sedia menerima kebenaran meskipun berlawanan dengan prasangka dan keinginan atau kecenderungan pribadi maupun golongan.

Menurut Poespoprodjo dalam Logika Scientifika, kewajiban mencari kebenaran adalah tuntutan intrinsik manusia untuk merealisasikan manusia menurut tuntutan keluhuran keinsaniannya. Manusia dikaruniai akal budi yang membedakannya dari makhluk hidup yang lain. Dengan akal budi ini manusia berpikir. Pada dasarnya berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri merupakan obor bagi peradaban manusia di mana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna

Pada hakekatnya, upaya manusia dalam memeroleh pengetahuan didasarkan pada tiga macam pertanyaan: apakah yang ingin kita ketahui? Bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? Dan apakah nilai pengetahuan itu bagi kita?

Ilmu merupakan salah satu dari buah pemikiran manusia dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri keilmuan ini didasarkan pada jawaban yang diberikan ilmu terhadap ketiga pertanyaan pokok tadi. Filsafat mempelajari masalah ini sedalam-dalamnya dan hasil pengajiannya merupakan dasar bagi eksistensi ilmu. (Suriasumantri, 1997: 4)

Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau suatu pengajian tentang teori ada. Kemudian bagaimana cara kita mendapatkan pengetahuan tentang suatu obyek dibahas epistemologi (teori pengetahuan). Tentang nilai pengetahuan dibahas oleh aksiologi, teori tentang nilai.

Dalam epistemologi, pembahasan dilakukan secara mendalam terhadap segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan atas suatu objek. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas dua model pencarian kebenaran yang merupakan bagian dari epistemologi, yakni positivisme dan fenomenologi berdasarkan buku Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat karya Zainal Abidin.

positivisme

Sebagai teori pengetahuan, istilah positivisme biasanya didefinisikan sebagai salah satu paham dalam filsafat Barat yang hanya mengakui dan membatasi pengetahuan yang benar kepada fakta-fakta positif. Fakta-fakta positif adalah fakta yang sungguh-sungguh nyata, pasti, berguna, jelas, dan yang langsung dapat diamati dan dibenarkan oleh setiap orang yang punya kesempatan sama untuk mengamati dan menilainya. Fakta-fakta tersebut didapat melalui metode ilmu pengetahuan, yaitu eksperimentasi, observasi, dan komparasi.

Positivisme lahir dari gagasan Auguste Comte mengenai tahap-tahap perkembangan akal budi manusia. Menurutnya, perkembangan akal budi manusia bergerak dalam urutan yang linier dan tidak terputus. Perkembangan itu bermula dari tahap teologis ke tahap metafisis dan berakhir di tahap positif.

Menurut Comte, teologis dan metafisis adalah pengetahuan yang merupakan lawan dari fakta-fakta positif. Jadi, teologis dan metafisis adalah kejadian yang bersifat khayal, meragukan, ilusi, dan kabur. Pengetahuan tersebut lambat tapi pasti akan tersingkir dan digantikan oleh ilmu pengetahuan positif. Ilmu pengetahuan positif ini, menurut Comte adalah satu-satunya jenis pengetahuan tertinggi dan paling unggul yang pernah dimiliki oleh manusia.

Comte menulis, “Sebagai anak kita menjadi seorang teolog, sebagai remaja kita menjadi ahli metafisika, sebagai dewasa kita menjadi ahli ilmu alam.” Pada tahap teologis, manusia berusaha menerangkan segenap kejadian dalam kaitannya dengan teka-teki alam yang dianggap bersifat misterius. Namun, manusia tidak menghayati dirinya sebagai makhluk luhur dan rasional dalam usahanya untuk memahami alam semesta.

Pada tahap metafisis, manusia mulai merombak cara berpikirnya yang mulai dianggap tidak mampu memenuhi keinginan untuk menemukan jawaban yang memuaskan tentang kejadian alam semesta. Pada tahap ini, semua kejadian tidak lagi diterangkan dalam hubungannya dengan kekuatan yang bersifat rohani dan supranatural. Manusia pada tahap ini berusaha mencari esensi dari segala sesuatu. Perbedaan cara berpikir pada tahap metafisis dengan tahap teologis adalah manusia tidak lagi bersifat fatalis dengan hanya terpaku pada dogma agama. Namun, pada tahap ini masih menggunakan pengandaian-pengandaian. Sehingga tahap ini hanyalah tahap transisi menuju tahap berikutnya.

Pada tahap positif, kejadian alam tidak lagi dijelaskan melalui pengandaian semata, tetapi melalui berdasarkan pada observasi, eksperimen, dan komparasi yang ketat dan teliti. Gejala dan kejadian alam harus dibersihkan dari teologis dan metafisisnya. Akal tidak diarahkan untuk mencari kekuatan yang substansial di balik setiap kejadian. Akal pun tidak lagi berorientasi pada pencarian sebab pertama dan tujuan akhir kehidupan. Akal mencari hukum-hukum yang mengatur timbulnya kejadian itu. Hukum-hukum tersebut kemudian dianggap pasti dan dapat dipertanggungjawabkan karena semua orng dapat membuktikannya dengan perangkat metode yang sama seperti perangkat yang dipakai untuk menemukan hukum tersebut. Lebih jauh lagi, hukum-hukum ini kemudian bersifat praktis karena dianggap mampu mengontrol dan memanipulasi kejadian-kejadian sebagai sarana untuk menggapai masa depan yang lebih baik.

Dalam mendapatkan teori ini, Comte berpedoman pada rasionalitas Descartes dan ilmu-ilmu alam. Oleh karena itu, apabila kita telusuri ilmu pengetahuan positif ini, kita akan mendapatkan beberapa asumsi, antara lain:

  1. Ilmu pengetahuan harus bersifat objektif (bebas nilai dan netral)

Objektivitas pengetahuan berlangsung dari dua pihak: subjek dan objek. Pada pihak subjek, seorang ilmuwan tidak boleh membiarkan dirinya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam dirinya yang bisa mempengaruhi objek yang diobservasi. Pada pihak objek, hal-hal yang tidak dapat diukur tida ditolerir keberadaannya, misalnya estetika sebuah benda seni. Selain itu, objek harus diandaikan tidak mempunyai subjektivitas dan keunikan.

  1. Ilmu pengetahuan hanya berkaitan dengan hal-hal yang berulang kali terjadi

Apabila ilmu pengetahuan diarahkan kepada hal-hal unik, pengetahuan tidak akan dapat membantu untuk meramalkan.

  1. Ilmu pengetahuan menyoroti setiap fenomena atau kejadian alam dari saling ketergantungan dan antarhubungannya dengan fenomena-fenomena atau kejadian-kejadian lain.

Mereka diandaikan saling berhubungan dan membentuk sistem mekanis. Maka perhatian ilmuwan bukan diarahkan pada hakikat atau substansi dari kejadian-kejadian itu.

fenomenologi

Fenomenologi dilahirkan Edmund Husserl. Husserl memiliki pandangan bahwa manusia pada prinsipnya adalah makhluk yang berkesadaran, dan berkat aktivitas-aktivitas kesadarannya, manusia mampu mengatasi dirinya dan menciptakan dunianya yang khas bagi dirinya.

Husserl mengecam keras positivisme. Positivisme dikritik Husserl karena keengganan dan ketidakmampuan ilmu positifdalam mempertimbangkan masalah nilai dan makna. Nilai dan makna menurutnya tidak bisa diabaikan oleh ilmu karena keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan. Ilmu pengetahuan postif tidak dapat menjawab persoalan-persoalan tentang kehiduapan, karena terlalu pada fakta positif yang bersifat kuantitatif.

Pandangan Husserl ini diawali dari krisis ilmu pengetahuan di eropa. Krisis tersebut adalah hilangnya landasan teoritis yang kokoh untuk berpijaknya teori-teori ilmiah dan ketidakmampuan ilmu dalam mengangani akibat-akibat yang ditimbulkan oleh penerapan ilmu dalam praktek sehari-hari serta kehidupan sosial-politik-budaya. Tugas fenomoneologi dalam hal ini adalah menjernihkan konsep-konsep ilmu pengetahuan sedemikian rupa sehingga konsep tersebut dapat menjadi landasan yang kokoh bagi konsep-konsep berikutnya.

Tujuan kritik dan penolakan itu bukan berarti Husserl menyangkal pentingnya paradigma berpikir dalam ilmu pengetahuan tersebut. Namun, Husserl menganggap ilmu terebut membutuhkan pendamping dari sebuah pendekatan filsafat fenomenologi. Diharapkan fenomenologi dapat menjelaskan apa yang tidak tertangkap oleh positivisme. Fenomenologi mendekatkan diri pada ilmu-ilmu deduktif, seperti logika dan matematika, ketimbang pada ilmu-ilmu alam induktif menurut model positivisme Comte.

Untuk membangun fenomenologi, Husserl berseru: kembali kepada realitas. Kembali kepada landasan awal segala jenis teori. Kembali kepada objek. Namun, dalam proses ini ia menyadari bahwa subjek memberi bentuk terhadap objek. Ia  menemukan fakta bahwa sumber yang asli bukan terdapat pada objek, melainkan pada subjek yang disebut Husserl subjek transendental.

Kembali pada sumber dilakukan dengan melakukan tahapan-tahapan reduksi yang menunda prasangka kita pada realitas. Tahapan-tahapan tersebut adalah :

  1. reduksi eiditis

Dalam tahapan ini kita memfokuskan pada hal-hal yang esensial (eidos) dari sebuah objekbukan pada hal-hal yang aksidental. Hal-hal yang aksidental harus direduksi.

  1. reduksi fenomenologis

Reduksi kemudian dilanjutkan pada subjek. Setiap prasangka terhadap objek yang ada direduksi.

  1. reduksi transendental

Kedua tahap reduksi sebelumnya bertujuan untuk menggapai kesadaran. Dalam reduksi yang ketiga ini, tak hanya setiap prasangka terhadap objek, namun prasangka subjek terhadap keseluruhan realitas.

Dari reduksi-reduksi tersebut, Husserl menemukan esensi kesadaran yang disebut intensionalitas. Kesadaran adalan intensional, yang selalu mengarah kepada sesuatu yang disebut objek intensional. Aktivitas menyadari disebut aktivitas intensional. Oleh sebab itu, pengertian kesadaran selalu berhubungan dengan objek yang disadari. Tidak ada objek intensional tanpa aktivitas intensional. Kedua hal tersebut berhubungan.

Penyelidikan lanjutan Husserl terhadap struktur intensionalitas membuat ia menemukan mepat aktivitas yang melekat dalam kesadaran, yakni objektifikasi, identifikasi, korelasi, dan konstitusi. Intensionalitas berarti mengarahkan data kepada objek. Data kemudian digunakan sebagai bahan mentah dan diintegrasikan ke dalam objek yang membentuk kutub objektifnya.

Setelah mengadakan objektifikasi, intensionalitas mengarahkan data yang datang dari berbagai peristiwa kemudian kepada objek hasil objektifikasi tadi. Identifikasi tersebut banyak dipengaruhi berbagai aspek dari dalam baik emosional maupun intelektual.

Setiap aspek dari objek yang identik menuju pada aspek-aspek lain yang menjadi horisonnya. Aspek-aspek tersebut memberikan pengharapan kepada subjek untuk mengalaminya kembali di kemudian hari. Pengharpan itu mungkin terwujud mungkin juga tidak. Satu hal yang jelas, aspek-aspek tersebut selalu dibayang-banyangi oleh objek identik yang sudah tampak lebih awal.

Prestasi sesungguhnya dari intensionalitas terletak pada konstitusi (menciptakan). Di sini aktivitas intensional berfungsi mengkonstitusikan objek-objek intensional. Oleh sebab itu, objek intensional tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sudah ada begitu saja bagi aktivitas intensional. Melainkan diciptakan oleh aktivitas intensional itu sendiri. Objek intensional berasal dari endapan-endapan aktivitas intensional.

Penyelidikan Husserl kemudian mengarhkannya kepada dunia yang dihayati (Lebenswelt) oleh subjek atau kesadaran. Keberadaan hal ini mengkonfirmasikan prestasi tersendiri dari subjektivitas dan memberi petunjuk tentang karakter intensionalitas kesadaran.

Husserl kemudian melakukan penelitian tentang Lebenswelt dengan kembali pada dua reduksi pertama. Namun reduksi lebih diutamakan kepada prasangka yang berasal dari ilmu sehingga kita harus melepaskan diri terlebih dahulu dari ilmu. Dunia ini adalah dunia yang relatif, dunia yang bergantung pada subjek, bukan dunia objektif dalam pengertian fisik material. Husserl menganjurkan bahwa ilmu seharusnya bertolak dari dunia yang dihayati itu. Tugas fenomenologi adalah menggali Lebenswelt sehingga hasilnya dapat dijadikan sebagai asumsi atau titik tolak untuk ilmu.