IMG_0003 fixDi sebuah penjara. Moloch selalu memimpikan hal yang sama: ia memimpin sekelompok orang menuju sebuah pulau, membantai pemukim di pulau itu. Adegan yang ia mimpikan seolah nyata. Namun, adegan yang ia mimpikan adalah kejadian 300 tahun yang lalu. Adegan itu memang nyata dan menjadi sejarah terkelam yang dimiliki oleh sebuah pulau bernama Dutch, atau orang-orang pulau itu lebih suka menyebutnya Suaka.

Ketika ia dibebaskan dari penjara oleh sekelompok orang jahat, ia memiliki satu obsesi: membalas dendam kepada istri yang berhasil membongkar rahasianya dan membawa kabur seluruh uang hasil dari cipratan darah korbannya. Ia tak pernah berselingkuh. Kaburnya sang istri ia anggap pengkhianatan. Penelusuran yang ia lakukan membawanya ke Suaka.

Di sana istrinya terlibat cinta dengan seorang polisi. Ia bukan polisi biasa. Ia adalah rakasasa yang terlahir di pulau itu. Instingnya terasah seperti binatang yang sensitif terhadap berbagai hal-hal buruk yang akan menimpa alamnya, menimpa Suaka.

Suaka pun bukan pulau sembarangan. Ia tak pernah lepas dari sejarahnya. Para penghuninya yang lama, para hantu yang terkubur di pulau itu, tak pernah lupa kekejian yang terjadi di pulau itu. Mereka bangun dengan rindu akan kehidupan. Mereka senang menarik ruh kehidupan, memburunya dari detik terakhir yang dimiliki orang sekarat.

Di pulau itu, Moloch merasa lengkap. Dirinya seolah memang terlahir di pulau itu. Ia merasa mengenal setiap jengkal pulau itu. Obsesinya begitu kuat ketika ia tiba di sana. Mencari istrinya bukanlah hal yang sulit.

“Apakah itu pistol di sakumu, atau kau hanya tidak senang melihatku?”

Bad Men, novel tentang kebaikan lawan kejahatan, di mana obsesi yang bercampur dendam melahirkan kekejian, sementara obsesi dan kasih menyampaikan perlawanannya. Ceritanya dibingkai oleh adegan-adegan pendek seperti dalam film thriller, dengan tenang menjalinnya satu persatu ketika pada saat yang tepat melahirkan sebentuk kejutan.