Ada satu acara baru di tv. Sejenis reality show. Judulnya Reaksi. Biasanya acara sejenis itu saya hindari. Tapi untuk yang ini, saya ikuti hingga habis.

Acaranya bukan lucu-lucuan. Ini bukan komedi walaupun kadang saya tertawa. Temanya bukan cinta. Hanya mencari tahu realitas, reaksi dari masyarakat atas suatu peristiwa. Eksperimen. Mereka buat suatu kejadian yang direka, membiarkan orang asing masuk ke dalam, membiarkan orang itu bereaksi, dan tentu saja merekam reaksi itu.

Seingat saya, di edisi kali itu ada tiga situasi yang dicoba. Geng Nero, pengutilan, dan tindakan semena-mena atas pengemis. semuanya menarik. tapi yang paling menarik buat saya yaitu geng nero.

Di sebuah jalan umum, Ada empat perempuan yang berpura-pura jadi siswa SMA. satu di antaranya berjalan melewati yang lain. tiba-tiba tiga orang lainnya menarik dan menjambak perempuan tadi. sambil berteriak marah, ketiga perempuan itu berbuat kasar. mereka menciptakan situasi seperti ketika geng nero berulah.

satu per satu warga yang kebetulan melintas memberikan reaksi yang macam-macam. ada yang lewat dengan acuh. ada yang menonton. ada yang melerai dengan tenang. bahkan ada pula yang semula menonton dengan senang, kemudian marah-marah.

yang menarik adalah ketika sekelompok anak yang sedang bersepeda melintas. dengan seragam pramukanya, saya kira mereka masih SD. semula mereka hanya menonton. tampak tak ada niat untuk melerai. mereka terlihat takut. tapi ada seorang anak yang berani. ia loncat dari sepeda, berlari ke tengah, dan berusaha menghentikan kejadian itu. tubuh kecilnya rupanya tidak bisa melerai. warga yang dewasa akhirnya datang ikut membantu anak kecil tadi.

ia masih kecil. tapi jiwa heroisme sudah ia miliki. mana yang benar dan yang salah ia sudah agak mengerti. yang lebih penting ia mampu memberikan aksi ketika ada yang salah. ataukah ia mudah terprovokasi?

entahlah. bantuan semacam yang ia berikan bukanlah mudah. apalagi ketika yang membutuhkan adalah orang asing. ketika saya mengingat lingkungan saya, apa yang saya rasakan adalah egoisme. tiap orang tak lagi mengerti orang lain. tiap orang yang saya kenal tak melulu teman. begitu menyedihkan karena saya ada dalam lingkungan itu.

ketika kapitalisme  semakin berkembang menjadi agama bagi banyak orang, saya bersedih atas diri saya sekaligus bersyukur di luar sana masih ada yang tidak terpengaruh..