Selasa, 30 Desember 2008

Selesai di Tasik, saya dan Tendi melanjutkan perjalanan ke Sumedang. Sebenarnya kami tidak tahu tujuan akhir dari perjalanan yang kami lakukan. tapi,kami pikir jalur pantura akan lebih menyenangkan karena banyak teman kami yang tinggal di sana. salah satunya di Sumedang.

Sumedang terkenal dengan tahunya. Siapa yang tidak kenal dengan tahu sumedang? tahu yang berkulit coklat kering dengan isi berwarna putih yang lembut. tahu ini selalu nikmat bila disantap dengan lontong dan juga sambal kecap.

tahu sumedang sudah tersohor. tapi jangan dikira kelebihan kota ini hanya di tahunya saja, kebudayaan Sumedang Larang harus Anda kenali juga. memang tempat-tempat kebudayaan berpencar, tidak berpusat di satu tempat. salah satunya di Ranca Kalong, sekitar 45 menit perjalanan dari kota Sumedang. di sana, tradisi dan kesenian Sumedang masih kuat.

Salah satunya adalah musik tarawangsa yang biasa mengiringi tari-tarian yang diselenggarakan ketika musim panen. selain itu, masyarakat di sana seringkali mengadakan festival sepak bola api. tak hanya orang dewasa, anak-anak pun turut serta dalam acara ini.

Sumedang pun sering menggelar pacuan kuda. biasanya acara ini digelar pada musim-musim liburan anak sekolah. di Tanjungsari misalnya, acara pacuan kuda biasa diselenggarakan pada hari terkahir pasar malam yang digelar pada musim liburan.

derap langkah kuda dalam arena tentu saja berbahaya. siapa yang mau terinjak mati oleh kuda? resiko yang sedemikian beratnya rela dihadapi setiap joki. mereka mesti berkonsentrasi penuh dalam tiap pacuan. dengan itu, mereka bisa jadi juara.
setelah selesai pacuan, coba tebak apa yang mereka lakukan. apakah berlatih? tidak, kebanyakan dari mereka bekerja sebagai kusir delman dengan upah yang tidak seberapa.

joki-joki yang berprestasi maupun mempunyai potensi hanya bisa bekerja di atas delman ketika musim pacuan usai. tidak ada kelanjutan dari pacuan. bahkan, hadiah yang diterima para joki di pacuan malah lebih kecil dari yang diterima pemiliki kuda. sungguh miris rasanya, ketika mereka yang berpacu di depan resiko kematian tidak dihargai dengan harga yang sebanding.