Rabu, 31 Desember 2008

Selesai berurusan dengan polisi, kami langsung memacu motor dengan kecepatan penuh. lenggangnya jalur pantura membuat perjalanan Tegal-Pekalongan tak begitu lama, hanya sekitar setengah jam. apalagi motor kami bisa dipacu hingga 160 km/jam! saya pun kaget melihatnya! mana mungkin Karisma bisa seperti itu.

160 km/jam di pantura

160 km/jam di pantura

sekitar pukul 16.00 kami tiba di pekalongan. Dulu, pertama kali saya bertandang ke pekalongan, panasnya udara sungguh menyeramkan. mandi lima kali sehari kurang cukup untuk menghilangkan gerah. namun, hari itu, saya merasa biasa saja. mungkin karena sebelumnya sudah aklimatisasi di pantura.

Batik pekalongan. semua orang yang datang ke pekalongan, khususnya turis, selalu mencari waktu untuk menyempatkan diri berbelanja batik di Pekalongan. ada pasar khusus yang isinya menjual batik. harganya pun murah. saya kaget ketika tahu banyak batik pekalongan yang ‘diekspor’ ke Jogja, dan dijual di sana sebagai Batik Jogja.

selain batik, pekalongan pun punya makanan khas. namanya Sega Megono. sajian khas ini dihidangkan di atas piring, terdiri dari sepiring nasi dengan ditaburi megono, masakan yang terbuat dari – mungkin – nangka dan serundeng goreng. masakan ini bukan masakan berkuah, lebih seperti sekoteng yang tanpa kuah dengan rasa yang asin.

selain itu, Anda pun dapat menikmati soto tauco di sini, Soto yang terdiri dari daging dan tauge ini dihidangkan dengan ditambahi tauco. rasanya pun menjadi asam menyegarkan. dengan ditambahi sedikit sambal, rasanya akan berubah asam nan beringas.

Hari itu, saya beruntung, uang saya tinggal sedikit. sisa uang saya simpan untuk jaga-jaga bertemu kembali dengan polisi Tegal. alhasil saya tidak bisa jajan dengan bebas. tapi, “Orang Jawa tuh kalau soal makanan ya, kayak gini,” kata Sena, teman saya yang asli Pekalongan.

kayak gini? tiap harinya saya dipersilakan makan sepuasnya. masakan-masakan diantarkan ke kamar teman saya. saya hanya tinggal duduk menikmati seperti ketika berada di hotel. tidak tanggung-tanggung, mungkin ada sekitar lima kali sehari saya makan berat, itu pun dengan diselingi cemilan-cemilan dan minuman-minuman. phew, saya serasa hewan kurban yang akan segera di sembelih.

tak salah langkah kami berlibur melewati jalur pantura bertemu teman-teman. andai saya punya teman di luar negeri, mungkin akan saya kunjungi. apalagi ini bisa jadi salah satu alternatif cara untuk menghemat uang di tengah perjalanan.