Rabu, 31 Desember 2008

Tegal tak banyak berubah. kota ini ramai di akhir pekan, sedikit sepi di awal pekan, dan sepeda masih mendominasi jalanan. pemandangan biasa di Jawa Tengah, terutama Pantura dengan struktur tanah yang landai, sehingga enak untuk bersepeda.

semuanya terasa rapi. warung-warung berderet dengan rapi. sepeda-sepeda berjalan dengan rapi, sepeda di kiri jalan, sepeda motor sebelah kanannya, dan yang paling kanan adalah mobil, sesekali bus.

tapi hati-hati, tidak semuanya rapi di sini. zebra cross dan batas jalan di Tegal sangat rapi, sampai-sampai tidak terlihat. Anda pun akan dipaksa berhenti mendadak seenak Anda ketika lampu merah menyala. Anda tidak akan tahu jika Anda sudah melewati batas terdepan jalan. Yang mesti Anda lakukan adalah menyerahkan SIM dan STNK kepada seseorang yang akan mendatangi Anda sambil membunyikan peluit: Polisi.

Anda tidak akan sadar akan kehadirannya sampai ada peluit yang berbunyi. selayaknya Batman yang bersembunyi di tengah kegelapan, baru ketika ada mangsa di depannya, polisi akan menampakkan dirinya, lengkap dengan pentungan yang menjadi andalannya.

kami, mengalami hal itu. seperti biasa, tawar-menawar terjadi di pos polisi. pada awalnya, polisi itu berbaik hati menawarkan form biru sehingga kami bisa titip uang. uangnya pun berjumlah ‘hanya’ Rp. 60 ribu. (agar lebih jelas soal formulir biru, klik disini)

namun, teman saya yang kena tilang menolak dengan keras. ia protes. kami merasa dirugikan karena tanda yang tak terlihat. si polisi berujar pengendara yang lain saja bisa taat, kenapa kami tidak? menurut saya sendiri yang jadi masalah adalah kami bukan orang Tegal, tidak tahu seluk beluk kota Tegal. bagaimana mungkin kami tahu di perempatan Pasar Sore, jalan Gajah Mada tidak ada zebra cross? mereka yang berhenti dengan tepat saya rasa adalah warga asli Tegal yang tiap hari lalu lalang di jalan ini.

Alhasil, menerima protes keras dari teman saya, sang Polisi marah besar, ia pun langsung mengambil form berwarna merah dan seenaknya menentukan tanggal sidang. katanya, sesudah semua ditulis di form, ya, sudah ga bisa apa-apa lagi. kami hanya tinggal ikut sidang. wow, itu aneh sekali, kalau di Bandung, tulisan yang udah selesai di form merah jadi ancaman polisi buat cari uang sogokan.

polisi Tegal itu rupanya tidak mempan disogok, entah karena ia idealis atau sedang dalam kondisi emosi yang meluap-luap. akhirnya kami menerima form merah dengan diusir keluar pos polisi dengan bentakan – karena kami tetap berusaha protes di dalam pos.

beberapa hari kemudian, kami lupa itu tanggal berapa. kami datang ke kantor polisi untuk mengambil sim yang ditahan. tapi katanya belum ada berkas kami yang masuk. menurut petugas, berkas masih ada di pos polis tempat kami kena tilang. katanya sih tinggal datang ke pos itu, bilang kalau tidak bisa hadir sidang, minta titip sidang(formulis biru), dan paling dengan ‘kejahatan’ yang sempat kami lakukan, uang titip hanya sebesar 40 ribu.

sampai di pos. kami bertemu polisi yang berbeda. tapi berkas tilang dan sim masih ada. si polisi itu kemudian meng-sms temannya yang dulu menilang kami. katanya, oke titip, tapi 100 ribu. Buset! dia bilang udah bikin form merah itu susah lagi diurusnya – padahal menurut petugas di kantor itu gampang sekali – apalagi polisi yang dulu nilang kami adalah seniornya. Walah-walah, di mana-mana ada senioritas.

di samping kami ada orang lain yang sedang di tilang. iseng-iseng saya bertanya kepada orang itu. “dari mana, mas?” tanya saya.
“Semarang.”
“kena tilang, ya?kenapa?,”
“itu gara-gara berhenti di situ,” katanya (sambil menunjukkan zebra cross yang tak terlihat itu).
Rupanya memang ada ‘jebakan’ di situ.

awas! jebakan batman di sini

awas! jebakan batman di sini