Selasa, 30 Desember 2008

Semestinya kami bisa menikmati Sumedang lebih lama, merasakan bagaimana malam hari melintas di kota ini. tetapi teman kami di Sumedang rupanya punya kegiatan lain yang membuat kami tidak bisa menginap di tempatnya. kami pun meneruskan perjalanan ke Cirebon. di sana ada teman kami yang lain. sore hari, sekitar pukul 3, kami pun berangkat.

perjalanan dari Sumedang ke Cirebon tidak begitu jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam. jalan yang dilintasi tidak begitu buruk, namun Anda yang melintasi jalan ini harus tetap waspada karena banyak jalan yang berlubang ditambah truk-truk besar dan bus-bus mengisi jalanan ini.

tiba di Cirebon, kami sempat berkeliling untuk mencari makan. jalanan Cirebon sudah menyerupai Bandung dengan sedikit kemacetan. di sana-sini banyak perbaikan seolah Cirebon sedang berbenah diri.

tak lupa kami mencicipi salah satu makanan khas Cirebon yaitu nasi Jamblang. kedai nasi jamblang dapat dengan mudah Anda temukan. kedainya seperti angkringan Jogja. sederhana.

sekilas, nasi jamblang seperti nasi kucing di Jogja. namun, nasi jamblang ini dibungkus oleh daun jati. bungkus ini saya rasa memberikan sebuah rasa yang khas pada nasi. riasan kedai yang sederhana jangan sampai membuat Anda tertipu! tidak seperti angkringan Jogja dengan harga yang murah meriah, nasi Jamblang berbeda. bayangkan, dua nasi jamblang dengan ditambah paru goreng dan tiga tempe balok ukuran mini (lebih kurang 3 x 5 senti) dihargai Rp.12.000!

saya kira ini ulah orang Cirebon yang tidak ramah terhadap orang luar Cirebon. saya pun jadi berpikir buruk soal orang Cirebon. apalagi teman kami tidak dapat dihubungi. kami pun bingung akan tidur di mana malam itu. akhirnya ditetapkan kami tidur di masjid agung kota Cirebon. dengan kartu tanda penduduk (ktp) sebagai tiket masuk, kami pun diizinkan tidur di dalam mesjid oleh Satpam. rupanya masih ada orang baik di Cirebon.

Esok pagi, kami meneruskan perjalanan. di tengah jalan kami bertemu dengan kedai nasi jamblang yang berbeda. saya pun ingin makan di situ sambil membuktikan sebenarnya bagaimana harga nasi jamblang. saya pun memesan menu yang sama: dua nasi jamblang, paru goreng, dan tempe balok goreng mini. perut cukup kenyang.

“Bu, semuanya berapa?,” tanya Saya. “Delapan belas ribu,” kata si penjual. Ugh, rupanya nasi jamblang memang mahal. bila terlalu banyak makan nasi kucing di Jogja bisa bikin perut kita muntah-muntah, makan nasi ‘jalang’ di Cirebon bisa bikin dompet muntah-muntah.