Rabu, 31 Desember 2008

Berdiam diri di kota Cirebon tanpa teman yang merupakan tuan rumah ternyata sungguh menghabiskan uang. Kami pun mulai memasang rencana. apabila sebelumnya kami pergi tanpa menghubungi teman-teman, di hari itu kami menghubungi teman kami terlebih dahulu untuk memastikan keberadaannya. akhirnya dipastikan tujuan selanjutnya adalah Pekalongan! namun, sebelumnya saya ingin mampir di Tegal terlebih dahulu.

Jalanan menuju Pekalongan dapat ditempuh selama dua jam. jalannya hanya lurus, berbahaya bagi para supir yang mengantuk. jalan lurus biasanya semakin membuat supir tambah mengantuk.

Memasuki perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat, saya dikejutkan dengan pemandangan yang saya saksikan. jalanan berlubang parah sekali. lubang-lubang besar menganga siap menerkam mereka yang tidak berhati-hati. tapi bukan itu yang membuat saya terkejut.

di sana, puluhan orang berjajar di tengah jalan sambil menadahkan tangan, mereka mengemis. sungguh miris rasanya melihat mereka. dengan kondisi sekeliling(jalan, rumah) yang mirip dengan suasana sehabis ratusan mortir menghantam wilayah itu. nampak sekali mereka adalah pihak yang kalah perang, perang dengan kehidupan.

hal ini membuat saya bertanya-tanya tentang otonomi daerah yang menjadi program pemerintah, isu-isu desentralisasi. apa benar program ini dijalankan? bukankah program ini dijalankan karena pemerintah daerah dianggap lebih tahu soal rakyatnya. lalu, kenapa banyak pengemis di ambang pintu masuk provinsi seolah menyerukan “Siapa yang masih peduli kepada kami? mereka sudah tidak peduli!”

semestinya banyaknya pengemis seperti ini membuka mata pemerintah daerah. mereka seharusnya sadar dengan potensi tenaga kerja yang melimpah. saya kira satu hal yang bisa jadi solusi adalah distribusi lapangan kerja. di Jawa Tengah, saya rasa lapangan kerja hanya terkumpul di beberapa tempat saja, itu adalah lapangan kerja yang tiap harinya mampu memberikan uang. di beberapa tempat yang termarjinalkan, lapangan kerja hanya mampu memberi uang pada beberapa bulan saja. lalu di bulan-bulan lain, menurut perasaan saya, mereka mengemis.

Ahh, permasalahan kemiskinan selalu menjadi masalah yang komplek. jangan-jangan jalan butut yang berlubang itu sebenarnya merupakan salah satu jalan untuk mengentaskan kemiskinan dengan memberantas orang-orang miskin. saya jadi ingat Sophan Sophian yang meninggal gara-gara terjatuh dari motor di jalan berlubang. Yap, sebaikanya jalan antar provinsi itu, jalur Pantura, dibenahi dengan sebaik-baiknya.