Senin, 29 Desember 2008.

Di rumah nenek Tendi, grafik stress merosot drastis. Drop. kehidupan desa benar-benar terasa berjalan lamban. berbeda sekali dengan apa yang biasa saya jalani. sungguh, semuanya berjalan santai, slow. sudah lama saya rindu hidup seperti ini.

Satu mimpi ketika saya tidur nampaknya menandai titik di mana grafik merosot. Dalam mimpi, saya sedang mengendarai motor. Saya berusaha mengejar sebuah kereta api. Di persimpangan jalan berbentuk x, setelah kereta api yang saya kejar lewat, saya berhenti tepat di persimpangan itu, ada kereta dari arah kiri dengan kecepatan penuh.

Brak! tiba-tiba semua gelap. hitam. saya ingin membuka mata namun tidak bisa. badan ini malah bergetar selama tiga detik tak terkendali. saya pikir malam itu adalah malam terakhir saya. dengan kondisi seperti itu, otomatis saya membaca kalimat syahadat. Ugh, saya kira saya sedang sekarat.

ketika membuka mata, jam menunjukkan angka tiga, terdengar bunyi kereta api lewat. Phew, saya masih hidup. apakah mimpi tadi berhubungan dengan grafik stress milik saya yang dengan drastisnya merosot?mungkin..

terlepas dari itu semua. keadaan di desa sungguh memberikan kenyamanan. kehidupan mereka begitu sederhana namun bersahaja. berusaha untuk sederhana dan melaksanakan tujuan awal, saya dan Tendi memancing ikan di kolam untuk makan. tidak begitu sulit, untuk memancing. alhasil, dua ekor bawal dan dua ekor mujaer kami tangkap. kami pun kenyang dengan hasil masakan kami. ya, kami membuat sambal kecap sendiri, membakar ikan sendiri. hasilnya malah lebih memuaskan dibanding membeli. ada kepuasan tersendiri.

Memancing. Saya rasa kegiatan ini adalah akar budaya kehidupan manusia sejak lama. mungkin kegiatan ini dimulai pada masa berburu dan meramu milik manusia purba, katanya. Seiring perkembangan, alat pancing yang digunakan semakin canggih dan berkembang untuk mengurangi ketidakpastian.

walaupun alatnya canggih dan baru, inti kegiatan ini sungguh purba. semua orang sudah mengerti apa gunanya, apa dampaknya. Dari mengerti itulah, orang-orang kemudian sering menggunakannya. Dan mereka menggunakan karena butuh. dengan itu mereka bisa hidup sederhana dan bersahaja.

Saya jadi ingin tertawa ketika melihat banyak benda-benda di sekeliling saya, yang sebenarnya tidak memiliki manfaat berarti. saya beli benda itu karena sedang tren. tolol.

kalau tidak ada artinya kenapa dibeli? tidak bisakah saya seperti masyarakat desa itu? apakah alasan ‘kelebihan uang sehingga bingung untuk membelanjakan’ itu masuk akal? tidak. jika kelebihan uang, kenapa tak diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Lagipula, orang-yang-membutuhkan di Indonesia lebih mudah ditemukan daripada benda yang tidak berguna itu. Kala membuang-buang sesuatu demi sesuatu yang tidak berguna, masihkah hidup kita berguna?