Sabtu, 27 Desember 2008.

Jurnalistik. Deadline. Kerja keras. Mereka adalah tiga hal yang sulit dipisahkan. Sebagai mahasiswa jurnalistik, mereka bagian dari hidup saya. Hampir enam bulan saya berkelahi dengan mereka. Grafik stres begitu tinggi. Akhirnya, phew, grafik itu menemui titik puncaknya dan turun begitu curamnya. Libur telah tiba.

Jatinangor yang biasanya ramai, tiba-tiba seperti kota mati. Rasanya sungguh aneh. semua orang hilang ke rumahnya masing-masing. Saya yang tertinggal di daerah ini merasa kehilangan sesuatu yang telah menjadi bagian dari jiwa saya.

Bosan berdiam diri di Jatinangor, saya mencoba jalan-jalan ke Bandung. Berjumpa kawan SMA yang sudah lama tidak saya jumpai, sekalian meminta speaker aktif yang dulu sempat saya pinjamkan. Saya putuskan harus ada yang beda hari ini(Sabtu,27/12).

Ugh, jalan kaki! itu dia, satu hal yang telah lama tak saya lakukan. tapi, beban di tas saya terlalu berat. untungnya masih ada teman yang terjebak di Jatinangor. barang-barang di tas saya titipkan untuk diambil kembali sore nanti (thx din, he).

Saya memilih turun dari bis kota di Moh. Toha, dan berjalan kaki ke arah Dipati Ukur. Hmm, sebuah pilihan berani di tengah teriknya matahari Bandung.Saya pikir tak ada ruginya, bisa sekalian mampir di Kosambi melihat-lihat sepeda yang harganya, wow, hanya jadi mimpi bagi saya.

Jalan Moh. Ramdhan rasanya belum banyak berubah. lubang-lubang besar di tengah jalan. asap kendaraan yang berlebih. sampah yang berdiri di pojok-pojok jalan. tong sampah yang disembunyikan pemiliknya. setelah tiga tahun, saya tinggalkan, rupanya tidak ada pembenahan.

Satu hal yang sangat mengganggu adalah kaki lima yang tertata dengan sembrono sehingga mengganggu pejalan kaki. pejalan kaki terpaksa menggunakan jalan kendaraan bermotor ketika menghadapi mereka. tak hanya di jln Moh. Ramdhan, rasanya di Bandung ini gampang menemukan mereka.

Ugh, banyak sekali yang perlu ditata ulang. ketika pekerjaan rumah dari satu walikota ini selalu tertunda, kapan pr ini bisa selesai? seiring perkembangan kota, pr malah bertambah banyak. sayang, tidak ada guru yang galak.

dulu, katanya bandung itu kota kembang. saya jadi heran, julukan itu dapat dari mana ya? kembang dalam arti denotasi atau konotasi ya? kalau secara denotasi,apakah memang dulu itu Bandung begitu hijaunya sehingga kembang-kembang pun berani memamerkan diri di pinggir jalan? sekarang, semua diganti tumpukan sampah.

masihkah Bandung hijau? tidak. teduh? mana mungkin. aman? bisa jadi. nyaman? hmm. Saya sendiri lebih suka mencap Bandung sebagai kota yang kasar terhadap para pejalan kaki.