Happy birthday, thirty today

happy, so happy oh yeah…

-edson in i wanna be alone

petikan lagu di atas tiba-tiba saya ingat,  saat saya bangun tadi pagi. momen yang pas memang, karena hari ini, 22 Desember  adalah  hari  ulang tahun saya, walaupun lagu tersebut juga kurang tepat menggambarkan keadaan saya karena yang saya alami adalah ulang tahun ke-20.

namun, bait kedua dalam kutipan di atas cukup tepat menggambarkan saya. sebuah baris dari puisi yang dilantunkan dengan nada ironi oleh Pelle Carlberg (kalau tidak salah, dia vokalis edson). ironi, apakah saya bahagia? apakah saya sering berkata bahagia? setiap kali ulang tahun nampaknya saya tidak merasakan itu.

publikasi akan ulang tahun (ultah) saya pun tidak terlalu digembor-gemborkan. terbukti, hanya ada satu sms dari kawan saya, yang entah kenapa dia ingat ini hari ultah saya. selain takut dipaksa mentraktir dan berbagai macam siksaan batin di hari ultah (Anda yang bangsa Indonesia tentu tahu akan hal ini), saya rasa saya tidak senang dengan hari ultah yang tiap tahunnya selalu membuat saya berpikir kembali tentang waktu hidup saya. jika begitu, apakah masih perlu memberitakan hari ultah saya? ketika ultah membawa kita pada posisi yang terpojok karena beban masa depan?

15 tahun. ini mungkin tahun pertama saya mulai berpikir ketika ultah.  ketika ada sebuah formulir yang mesti saya isi, saya bingung ketika harus mengisi baris cita-cita dan harapan. apakah saya punya cita-cita? apakah saya punya harapan?

17 tahun. tahun saat saya harus memutuskan. kembali sebuah formulir datang. saat itu, saya harus memutuskan, apakah jalan yang saya pilih ini dapat menjawab apa cita-cita dan harapan saya?

18 tahun. segera saya tersadarkan dari mimpi, ketika seorang berteriak dan bertanya apa tujuan dari hidup saya. apakah itu penting? tujuan? apakah setiap orang punya tujuan? ya mereka punya. ini adalah titik yang menjadi fokus dari segala jalan yang kita tempuh. saat itu saya baru sadar. namun saya masih belum punya tujuan.

19 tahun. selesai membaca zarathustra, saya tahu, saya, anda, kita semestinya berharap menjadi manusia unggul. namun, bukan untuk menarik tapi untuk mendorong manusia lainnya. saat ini saya berpikir, apakah ini tujuan yang tepat?mungkin..

20 tahun …

(petikan sms yang saya ingat)

kawan saya(k): selamat ulang tahun. ini hari ibu dan ultah kakak saya. kalau tak salah, lu juga sama kan? selamat. semoga lebih dewasa dan lebih baik lagi.

saya(s): ah, rupanya saya belum invisible, masih perlu waktu untuk menjadi wine yang berkualitas

k: maksudnya pa invisible? wine yang berkualitas perlu puluhan tahun. manusia matang bukan oleh tahun tapi keinginan yang kuat untuk jadi lebih baik. banyak yang tua, lalu mati, titik. apa bagusnya?

s: ap yang saya katakan multiinterpretasi. namun agaknya kurang tepat bila menganggapnya seperti itu.

k: baik saya coba sekali lagi. saya hubungkan antara wine dan invisible. anda ingin menjadi wine yang berkualitas yang membuat orang lain menyukainya. setelah satu tegukan, anda pun dilupakan, begitu?

s: mungkin..

God gave us memories so that we might have roses in December

-J. M. Barrie-