Sebuah kelompok membagikan makanan gratis tiap minggunya. Namun, mereka menolak disebut badan amal.

img_1382

Tiap Minggu, mereka berkumpul di taman Cikapayang, Dago, di depan BCA. Biasanya pada pukul lima sore, mereka sudah ada di sana. Namun, hari itu, Minggu (9/11), lantaran hujan mereka terlambat datang. Sekitar pukul enam mereka baru tiba.

Mereka pun segera menyiapkan makanan dan membagikannya. “Sudah masak, sayang kalau kebuang,” ujar Dani, salah satu volunter kelompok itu. Mereka membagikan makanan secara gratis kepada setiap orang yang lewat. Namun, mereka menolak jika disebut badan amal.

“Kegiatan yang kami lakukan ini bukan amal. Amal itu kan dari kelas sosial tertentu ke kelas sosial yang lain. Ada hubungannya dengan kelas ekonomi,” bantah Dani.

Bila bukan amal, sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan? Mereka menyebut kegiatan mereka dengan istilah serving. Kegiatan itu merupakan bentuk protes mereka terhadap anggaran belanja negara untuk militer yang begitu besar, jauh di atas anggaran untuk pangan. Menurut mereka, ini berarti uang hasil pajak rakyat lebih diutamakan pada pengadaan bom-bom, bukan pada pangan. Ide itulah yang mendasari berdirinya gerakan Food Not Bombs (FNB).

Gerakan FNB bermula di awal 1980-an di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, saat sekelompok aktivis anti-nuklir memrotes pembangunan reaktor tenaga nuklir dengan menyemprotkan cat di dinding-dinding dengan slogan “Uang untuk makanan , bukan untuk bom.” Slogan tersebut kemudian disingkat menjadi food not bombs.

Saat sebuah pertemuan raksasa antara para eksekutif bank-bank nasional yang bertujuan untuk membiayai proyek nuklir diselenggarakan, mereka hadir di depan gedung pertemuan dan membagikan makanan gratis kepada sekitar 300 gelandangan yang ada di sekitar tempat itu.

Aksi tersebut dianggap berhasil. Mereka pun mulai mengorganisasikan pendistribusian makanan secara berkala dengan cara mengumpulkan kelebihan bahan makanan dari toko-toko grosir dan memasaknya. Ide gerakan ini menyebar ke seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

Di Bandung, FNB mendapatkan bahan makanan gratis dari supplier supermarket. “Di supermarket itu ada divisi quality control. Yang dilihat cuma keadaan fisiknya saja. Kentang yang bernoda, sayuran yang sobek, itu ga akan dijual tapi dibuang. Sementara itu banyak orang yang kelaparan. Kami menjadi perantara antara makanan yang terbuang namun masih layak makan dengan orang yang kelaparan,”ujar Dani.

Di dalam FNB tidak ada struktur organisasi. Kelompok ini menganut prinsip anti hirarki. Setiap keputusan diambil melalui konsensus. Konsensus adalah sebuah bentuk pengambilan keputusan yang dalam prosesnya bertujuan untuk membagi kekuatan di antara orang-orang agar semua dapat berpartisipasi dalam memperkuat dan mengimplementasikan keputusan kolektif.

Prinsip-prinsip seperti ini rupanya menjadi daya tarik FNB. Alamanda C., volunter FNB yang juga mahasiswa Fikom Unpad mengatakan,”Prinsip-prinsip yang dianut FNB sama dengan yang saya percayai. Anti hirarki, tidak ada ketua. Keputusan dibuat bersama, jadi tidak ada yang mendominasi. Semuanya muncul dari inisiatif.”

Lewat sebuah zine, FNB Bandung menceritakan ide, sejarah, prinsip, dan kiat-kiat dalam membentuk sel FNB. Mereka ingin sel-sel FNB bertambah banyak. Dengan demikian, semua orang bisa mendapat makanan gratis dengan mudah.

“Untuk ke depannya, kami ingin mereka yang biasa kita bagikan makanan gratis, bisa masak sendiri. Jadi kami salurin mereka yang masak. Tapi tetap ini ga boleh dijual, karena kami percaya makanan itu bukan komoditi,” ungkap Alamanda.