08-11-08_08391Jurnalisme sastrawi adalah salah satu genre dalam jurnalisme yang berkembang di Amerika Serikat di mana reportase dikerjakan dengan mendalam, penulisan dilakukan dengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak dibaca. Setiap detail tetap berupa fakta. Jurnalisme sastrawi bukan reportase yang ditulis dengan kata-kata puitis.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya Elemen-Elemen Jurnalisme menulis: “Bercerita dan informasi bukanlah hal yang berlawanan. Mereka lebih baik dipahami sebagai dua bagian dalam sebuah rangkaian komunikasi. Di satu ujung, barangkali, adalah cerita pengantar tidur yang Anda ceritakan untuk anak-anak Anda yang mungkin tak punya arti selain melewatkan waktu bersama-sama dengan akrab dan menyenangkan. Di ujung lain adalah data mentah seperti pertandingan olahraga, buletin komunitas, atau tabel saham yang sama sekali tak mengandung narasi.”

Kovach dan Rosenstiel menilai jurnalisme adalah penuturan dengan sebuah tujuan. Tujuannya adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan khalayak untuk memahami dunia. Tantangan pertama adalah menemukan informasi yang dibutuhkan khalayak. Kedua adalah membuatnya bermakna, relevan, dan enak disimak. Jurnalisme sastrawi menjawab tantangan tersebut.

Ada delapan karya jurnalistik yang dimuat dalam antologi ini. “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” yang ditulis Chik Rini berkisah mengenai pembunuhan orang-orang Aceh oleh tentara Indonesia pada sebuah peristiwa. “Taufik bin Abdul Halim” ditulis oleh Agus Sopian. Agus menceritakan kisah tentang seorang pengebom Atrium Senen.

Lewat “Hikayat Kebo”, Linda Christanty memberikan gambaran yang spesifik mengenai kekerasan yang terjadi di Jakarta ketika Orde Baru runtuh. Coen Husain Pontoh membuat laporan tentang majalah Tempo yang berjudul “Konflik Nan Tak Kunjung Padam.” Dalam pengantar, Andreas Harsono menulis, laporan ini membuat geger komunitas Tempo. Ada pula laporan yang membuat Hasballah Saad, orang Aceh yang pernah menjadi menteri dalam kabinet Presiden Abdurrahman Wahid, terpingkal-pingkal. Laporan yang dimaksud adalah “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” yang ditulis oleh Alfian Hamzah. Alfian menceritakan kembali pengalamannya saat bersama tentara Indonesia di Aceh.

“Koran, Bisnis, dan Perang” ditulis oleh Eriyanto. Di situ Eriyanto memaparkan hubungan antara konflik dengan media massa di Ambon. Budi Setiyono menampilkan profil Koes Bersaudara. Andreas Harsono memasukkan naskah “Dari Thames ke Ciliwung” untuk menekankan ranah fakta pada buku ini. Laporan itu sendiri berkisah menngenai privatisasi Perusahaan Air Minum Jakarta Raya.

Buku ini tak hanya baik sebagai pijakan untuk menulis feature news biasa ditulis dengan gaya penulisan yang memikat. Buku ini pun bisa menjadi acuan bagi orang-orang yang ingin menulis dengan indah tetapi tidak puitis.

Setelah membaca kedelapan laporan tersebut, kita akan menemukan kekhasan pelaporan ala jurnalisme sastrawi. Jarang ada kata-kata puitis. Tapi laporan itu seakan memiliki ruh sastra. Benar-benar terasa…