Pesawat itu menukik tajam ke bawah. Tampak kegelisahan di wajah sang pilot yang mengendalikan pesawat melalui remote control dari kejauhan. Dua detik kemudian, pesawat tadi berhasil menghindari mautnya dan kembali melayang dengan stabil. Garis luar area pun dilewati dengan lancar. “Mission accomplished!” teriak seorang juri diikuti sorak-sorai penonton.

Feri Ametia Pratama yang bertugas sebagai pilot, langsung disalami teman-temannya. Kegembiraan terpancar dari wajahnya. “Lega sekali setelah berhasil menyelesaikan misi dengan selamat,” ungkapnya.

Misi yang Feri maksud adalah sebuah simulasi dari misi pemantauan udara. Dengan pesawat yang beratnya kurang dari 150 gram, Feri dan timnya harus memantau sebuah area berbentuk lingkaran seluas lapangan bulu tangkis.

Di area tersebut, sejumlah kertas berbagai ukuran disebar. Huruf-huruf yang ada di dalam kertas mesti terbaca oleh seorang observer lewat video yang ditransmisikan secara online dari pesawat. Adapun kamera penangkap citra itu adalah RC-12 mikrokamera seberat 15 gram yang tertanam di bawah badan pesawat.

Hari itu, Senin 27 Oktober 2008, Feri dan timnya menjadi juara pertama untuk kategori mahasiswa dalam Indonesian Indoor Aerial Robot Contest yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Mesin Dirgantara (FTMD) ITB. Tim yang dinamai Bul-Bul itu berhasil mengalahkan delapan kontestan lain.

Jauh-jauh hari sebelumnya, bersama Michael Wisnu Wardhana, Arinta Hendri Wijaya, dan Aprizal Nahla, Feri mempersiapkan pesawat yang katanya menghabiskan biaya hingga Rp 900 ribu. Pesawat yang diizinkan bertanding adalah pesawat yang beratnya kurang dari 150 gram. Hal ini diyakini Feri sebagai tantangan terberat dalam kontes.

“Dengan kriteria berat harus dibawah 150 gram. Itu berarti kita butuh komponen-komponen yang mikro dan ringan. Komponen-komponen seperti ini sulit dicari di Indonesia,” ungkap Feri yang saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswa FTMD angkatan 2004.

“Kami pun harus memikirkan bagaimana agar gambar bisa ditangkap dengan baik oleh kamera. Itu kan artinya perlu kecepatan yang rendah dengan pengendalian yang baik. Hal-hal itulah yang menjadi tantangan dalam kontes ini,” tambahnya.

Dengan memerhatikan hal-hal tersebut, akhirnya keluarlah sebuah konsep pesawat yang unik. Mereka memadukan konsep biplane, tandem wing, dan cannard sekaligus.

Biplane merupakan konsep pesawat dengan dua sayap yang disusun secara bertumpuk. Konsep ini dipakai pertama kali oleh Wright bersaudara yang diakui sebagai penemu pesawat terbang. Dengan konsep ini, permukaan sayap akan lebih luas sehingga memberikan kemampuan bermanuver yang lebih baik.

Tandem wing tak berbeda jauh dengan konsep biplane. Hanya, letak sayap kedua yang berada di bawah berada tidak sejajar dengan sayap pertama yang berada di atas. Sayap kedua terletak di belakang sayap pertama, namun tetap berada di bawah sayap pertama. Penempatan seperti ini mengubah titik keseimbangan pesawat dan membuatnya dapat terbang dalam kecepatan rendah.

Sementara cannard adalah konsep yang sering dipakai oleh pesawat tempur. Ada dua pasang sayap yang terdapat dalam konsep ini. Sepasang sayap yang berukuran kecil dipasang di depan sayap utama. Sayap yang berukuran kecil itu berfungsi untuk memberikan kestabilan untuk pesawat.

“Biasanya, satu pesawat itu cuma tersusun atas satu konfigurasi. Kami mencoba mengadopsi ketiga konsep itu. Tapi jadinya pesawat ini terlihat seperti pesawat tandem wing yang dirangkai dengan canard,” ujar Feri.

Dari keunikan itulah akhirnya tercetus ide untuk menamai pesawat itu dengan nama Bul-Bul. Bul-Bul sendiri menurut mereka adalah salah satu jenis burung unik yang sudah langka. Dalam kategori mahasiswa, hanya Bul-Bul yang melaksanakan misi dengan lancar.

Namun, Feri mengakui masih ada kekurangan dalam pesawat buatannya itu. Kecepatan jelajah pesawat masih terlalu tinggi dan kadang sulit dikendalikan. Mesin penggerak pun menghasilkan vibrasi yang berpengaruh terhadap kamera. Gambar di video tampak bergetar. Hal ini tentunya mempersulit observer dalam mengidentifikasi huruf.

“Begitulah masalah yang dihadapi pemula dalam aeromodelling. Kreativitas sudah ada, semangat sudah ada, hanya informasi mengenai komponen-komponen masih terbatas, ditambah, mungkin soal biaya” komentar Bayu Permana, Ketua Tim Pijer dari Persatuan Aeromodelling Bandung. Dalam kontes itu Tim Pijer menjadi juara kedua dalam kategori umum.

Bayu sempat memukau penonton dengan menerbangkan sebuah pesawat berwarna kuning yang menyerupai kumbang. Bentuknya bulat dengan diameter tidak lebih dari 30 senti. Pesawat ini mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat rendah dengan manuver yang apik. Sang pilot tampak tenang ketika mengendalikan pesawat ini. Penonton pun terdiam ketika pesawat ini melayang di udara.

Pesawat ini seakan menunjukkan perbedaan level antara mahasiswa dengan profesional dalam dunia aeromodelling. Ketika ditanyai soal biaya produksi yang dikeluarkan, “Cuma Rp40 ribu, buat body-nya saja,” jawab Bayu yang enggan memberitahukan biaya produksi keseluruhan.

“Jangan memikirkan biaya. Mahal murahnya kan relatif. Yang paling penting itu semangat untuk berkarya. Misi mereka saat ini adalah bagaimana menyempurnakan pesawat buatannya. Biaya itu nomor dua,” ujar Bayu.

Satu hal yang harus diingat dalam dunia aeromodelling, uang tidak dapat dijadikan alat untuk menghitung kepuasan. Kadang, para aeromodeller harus rela menghabiskan uang dalam jumlah yang begitu besar demi hobinya itu. Maka, dikenal joke di antara mereka, “Masa kecil kurang bahagia, sudah gede kurang biaya.”