Tentu kita tahu dan seringkali diberikan contoh mengenai orang Jepang yang gemar membaca. Di mana pun mereka berada ada satu atau lebih jenis bacaan yang mereka bawa. Dari budaya baca yang telah lama mereka tanamkan itu, mereka pun menjadi salah satu negara yang memimpin teknologi dari negara lain. Lalu, mengapa masyarakat Indonesia tidak bisa seperti Jepang dalam membangun negaranya?

Bukan suatu hal yang sulit untuk menemukan apa yang salah dalam sejarah sehingga menyebabkan masyarakat Indonesia kurang suka membaca. Idealnya, perkembangan yang mesti kita lalui adalah kultur bicara, kultur membaca, dan kultur mengamati(menonton). Dari ketiga tahapan itu, masyarakat Indonesia langsung loncat ke kultur mengamati tanpa benar-benar menanamkan kultur membaca terlebih dahulu.

Hal tersebut disebabkan oleh masuknya televisi yang terlalu cepat ketika orang-orang saat itu belum senang membaca dan bahkan banyak di antara mereka yang masih buta huruf. Hal ini membuat masyarakat tidak mau bersusah payah membaca dan lebih senang menikmati tayangan televisi.

Alhasil, kita pun jadi sering melihat tayangan-tayangan yang tidak bermutu, tayangan-tayangan yang hanya meniru dari tayangan yang sudah ada, dan banyak sekali peniruan lainnya yang terjadi di masyarakat kita yang diakibatkan oleh minat baca yang rendah. Pemerintah yang telah sadar pun akhirnya menggembor-gemborkan untuk menanamkan budaya membaca. Namun, apakah masyarakat kita telah sadar akan hal itu?

hal-hal di atas adalah apa yang disampaikan Pak Dandi, dosen mata kuliah perkembangan media baru dengan sedikit perubahan