Saya sungguh terkejut ketika membaca poster panduan rumah hijau yang disertakan dalam paket edisi khusus National Geographic Indonesia yang membahas perubahan iklim. Dalam poster tersebut terdapat sebuah grafik yang menggambarkan penggunaan listrik Indonesia. Barangkali kita semua beranggapan sama dan akan setuju jika menyebut industri sebagai konsumen listrik terbesar di Indonesia. Industri menggunakan 45% energi listrik yang ada di Indonesia. Namun, di peringkat dua, kita (sektor perumahan) sedang bersiap menyusul industri dengan angka 40%.

Setiap tahunnya, emisi CO2 yang dihasilkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil senantiasa mengalami peningkatan. Pada 2006, emisi CO2 mencapai 1 milyar ton! Wow! CO2 yang dilepaskan ke langit mengakibatkan apa yang kita kenal dengan efek rumah kaca. Selama jumlah CO2 mengalami peningkatan, suhu bumi pun akan terus naik.

Sementara itu, tanda-tanda perubahan iklim semakin jelas terlihat. Naiknya permukaan air laut yang diakibatkan gletser yang mencair merupakan salah satu tanda yang tampak. Bila ini dibiarkan, pulau-pulau kecil di Indonesia akan terendam. Itu hanya permulaan. Suatu saat nanti, pulau-pulau besar seperti Jawa akan ikut terendam. Saat itu terjadi, ke mana kita akan pergi?

Efek rumah kaca memang sebuah fenomena alam, namun kita yang hidup di dalamnya adalah orang-orang yang membuatnya tumbuh dengan cepat. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan upaya yang dimulai dari diri kita sendiri. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah memantau penggunaan peralatan elektronik seefisien mungkin, menggunakan kendaraan pribadi yang berbahan bakar minyak sebijak mungkin, atau menggunakan sepeda dan angkutan umum yang tersedia daripada mobil maupun motor pribadi.

Bersepeda itu menyenangkan, lho! Mungkin pada awalnya terasa berat. Tapi setelah lama bersepeda, Anda akan menemukan keasyikan bersepeda. Mari, kita gowes sepeda kita di jalanan sambil menjaga hijaunya bumi kita.