A certain King had three sons who were all equally dear to him, and he did not know which of them to appoint as his successor after his own death. When the time came when he was about to die, he summoned them to his bedside.
The King said, “Dear children, I have been thinking of something which I will declare unto you; whichsoever of you is the laziest shall have the kingdom.”
The eldest said, “Then, father, the kingdom is mine, for I am so idle that if I lie down to rest, and a drop falls in my eye, I will not open it that I may sleep.”
The second said; “Father, the kingdom belongs to me, for I am so idle that when I am sitting by the fire warming myself, I would rather let my heel be burnt off than draw back my leg.”
The third said, “Father, the kingdom is mine, for I am so idle that if I were going to be hanged, and had the rope already round my neck, and any one put a sharp knife into my hand with which I might cut the rope, I would rather let myself be hanged than raise my hand to the rope.”
When the father heard that, he said, “Thou hast carried it the farthest, and shalt be King.”
…
And then i said, “WTF!, Oh, okay. I get it. I am destined to be a King.”

2 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
Agustus 19, 2011 pada 9:23 am
dina tsh
ga seru ah. mosok the laziest
September 25, 2011 pada 6:23 pm
ical
hehe, itu satu cerita dari Grimm, kecuali kalimat terakhir. kenapa saya tertarik dengan cerita ini? dibaca sekilas memang aneh. dibaca sekilas banyak orang bakal nggak suka sama cerita ini. awal saya baca sekilas pun demikian.
tapi kemudian saya rasa ada sesuatu dari cerita ini. hmm, apa yang saya tangkap sih soal konsistensi seseorang terhadap sesuatu. terus saya google, dan dapet banyak pemahaman soal cerita ini. yaaah, lupakan soal malas atau apapun itu. anggap saja malas adalah salah satu prinsip hidup dari jutaan prinsip lainnya yang ada di dunia ini yang bisa kamu ambil. ya, kita bebas ambil satu prinsip kan ya, apapun itu.
well, ucapan anak yang pertama menunjukkan kalau prinsip hidup kita, ketika dibenturkan dengan lingkungan, dunia di luar kita, bisa jadi menimbulkan ketidaknyamanan. semacam disonansi. semacam kebimbangan, “haruskah saya bertahan, haruskah saya berubah?”. yah, semacam itulah.
anak kedua bicara bagaimana ada penderitaan yang mungkin muncul dari apa yang kita yakini, dari konsistensi kita terhadap sesuatu.
sementara yang ketiga, dia tetap bertahan dengan apa yang ia yakini. ada rintangan yang hadir, ada penderitaan yang akan muncul. tapi di sisi lain, dia juga punya kesempatan (and any one put a sharp knife into my hand with which I might cut the rope), tapi dia tetap teguh pada apa yang ia yakini. dan, BOOM, datanglah anugrah setelah tetap konsisten sama yang dia percayai.
dan saya, saya ingin belajar untuk konsisten terhadap banyak hal
begitu lho dinaaa