1
Aku senang berada dalam dekapannya. Hangat dan aman.
Wajahnya yang berseri selalu menemaniku. Siang dan malam.

3
Ah, Ibu. Jangan biarkan mereka mencubit pipiku.
Meskipun memang, merahnya pipiku bukan karena itu, tapi karena kau selalu membangga-banggakan aku di depan mereka.

5
Aduh, Bu. Aku tak tahan duduk berlama-lama di sini.
Eh, Kemana Ibu?
Kulongokkan kepalaku dan kulihat Ibu masih menungguku sambil tersenyum melihatku.

12
Matematika. Biologi. Bahasa Inggris. Apa, sih, yang ia tidak bisa? Wah, ibuku pintar sekali. Ia bisa segalanya. Aku senang belajar bersamanya.

17
Ah, Ibu ketinggalan zaman.

22
Sudahlah, Bu. Diam saja. Kita ini beda generasi.

26
Ibu cukup berdandan rapi nanti. Pakailah itu kebaya.
Tak perlu repot pikir-pikir siapa pasangan hidupku. Toh, itu urusanku, jalan hidupku. Akulah yang berhak menentukan.
Ibu cukup berdiri di sampingku sambil tersenyum menerima tamu.

33

Masih kecil, sudah badung. Kenapa anakku ini? Kenapa pula uang tabungan kami cepat habis.
Mungkin Ibu tahu caranya.

40
Yang mana ya? Lebih baik kutanya Ibu.

56
Andai Ibu masih ada di sini.

Didedikasikan untuk ibunda dari Rega Parama yang meninggal pada Rabu, 2 Desember 2009, pukul 19.10 – semoga beliau diterima di sisi-Nya – dan semua ibu di dunia.

erase racism

“Racism is man’s gravest threat to man – the maximum of hatred for a minimum of reason.”

-Abraham J. Heschel-

November 16th – International Day of Tolerance Read the rest of this entry »

Ikigami-01_FJP_175x247

Gila. Itu kata pertama yang mendengung di otak saya setelah selesai membaca komik Death’s Notice. Awalnya saya menyangsikan cerita yang dikemas dalam komik ini. Dengar saja judulnya: Death’s Notice: drama yang akan mengguncang jiwa. Agak sedikit norak. Terdengar seperti headline berita infotainment. Saya langsung beranggapan komik ini hanya ingin mendompleng kesuksesan komik Death Note. Judul keduanya mirip. Tetapi rupanya saya salah. Karya Mase Motoro ini benar-benar punya sesuatu yang baru.

Negara ini memiliki Undang-Undang Pemeliharaan Kemakmuran Negara yang membuat sebagian anak muda mati. Tujuannya agar para warga kembali menghargai nilai kehidupan. Setiap anak yang masuk SD di seluruh negeri akan diberikan vaksin Pencegahan untuk Kemakmuran Negara. Satu di antara 1000 suntukan terdapat nano kapsul khusus. Kapsul tersebut akan meledak dan merenggut nyawa anak-anak di hari yang sudah ditentukan saat mereka berumur antara 18 sampai 24 tahun. Tetapi, para anak muda itu baru akan mengetahui takdir mereka 24 jam sebelum waktu kematian mereka tiba. Dan sejak menerima surat pemberitahuan kematian atau ikigami, hari terakhir mereka pun dimulai. Read the rest of this entry »

Ketika kita bicara tentang jurnalisme investigatif, mungkin terbayang dalam benak kita tentang seorang wartawan yang dengan cerdiknya bisa mengelabui seorang penjaga dan mengambil dokumen penting di sebuah kantor dengan tingkat keamanan tinggi. Atau mereka yang menyamar sebagai mafia untuk tahu kegiatan sehari-hari para mafia. Atau mungkin mereka yang menaruh kamera tersembunyi untuk mengetahui rahasia yang disimpan seseorang.

Lupakan sejenak aksi-aksi tersebut karena tak selamanya seorang wartawan investigatif harus melakukan aksi seperti itu. Bahkan dalam beberapa kasus, aksi-aksi tersebut membuat wartawan investigatif mesti berurusan dengan hukum! Read the rest of this entry »

Sekitar 16.20 kami menunggu jawaban kepastian dari Andreas Harsono di depan Permata Senayan. Hari itu, Selasa (13/10), Harsono memberikan janji untuk bertemu di apartemennya tepat pukul empat sore. Namun, sms tidak dibalas, telepon tidak diangkat.

Di depan pintu apartemennya, beberapa sandal dan sepasang sepatu tergeletak tidak teratur. Ah, ada kemungkinan dia ada di dalam. Ketukan pertama. Tak ada jawaban. Ketukan kedua. Sepi. Ketukan ketiga. Saya mulai berasumsi ia mungkin kelelahan karena kemarin baru dari Jogja dan mungkin tadi baru saja berurusan dengan Polisi. Ketukan keempat. “Coba ketuk tiga kali lagi,” kata saya. Teman saya yang mengetuk tidak mendengar suara apa-apa dari dalam.

Sekitar pukul 17.40 kami menyerah. Simpulan sudah bulat: ia tidak ada dan hari itu kami tak mungkin melakukan wawancara. Kamipun pulang dan berpisah di persimpangan jalan di depan apartemennya. Read the rest of this entry »